Artikel

SEKALI PANEN TEMBUS 50 KG! RAHASIA PERAWATAN CABAI AGAR BUNGA TIDAK RONTOK, BATANG KEKAR, DAN BUAH TEBAL

SEKALI PANEN TEMBUS 50 KG! RAHASIA PERAWATAN CABAI AGAR BUNGA TIDAK RONTOK, BATANG KEKAR, DAN BUAH TEBAL


Karlina Indah / 25 Jul 2026

Setiap petani tentu ingin tanaman cabainya sehat, buahnya lebat, dan hasil panennya terus meningkat. Hal itu berhasil dibuktikan oleh Mas Imung, petani cabai asal Kabupaten Batang. Memasuki petikan ke-9, hasil panennya sudah mencapai lebih dari 50 kilogram dalam sekali petik, padahal tanaman masih belum memasuki puncak panen. Artinya, potensi hasil panen berikutnya masih sangat besar. Menurut Mas Imung, keberhasilan tersebut bukan berasal dari penggunaan satu pupuk tertentu, melainkan dari perawatan yang dilakukan secara rutin dan sesuai kebutuhan tanaman. Mulai dari pemupukan, penyiraman, penyemprotan, hingga penanganan penyakit dilakukan secara disiplin. Berikut rangkaian perawatan yang diterapkan sejak fase vegetatif hingga generatif.

Jadwal Pemupukan Kocor dari Vegetatif hingga Generatif

Saat musim kemarau, Mas Imung lebih mengutamakan pemupukan melalui sistem kocor. Selain memberikan nutrisi, cara ini juga berfungsi sebagai penyiraman sehingga lebih efisien. Tanah tetap lembap, akar lebih aktif menyerap unsur hara, dan tanaman tidak mudah stres akibat cuaca panas. Pada fase vegetatif awal, yaitu umur 5, 10, dan 15 hari setelah tanam (HST), tanaman dikocor menggunakan campuran phospat 3 sendok makan, asam amino 15 ml, dan asam humat 3 sendok makan. Kombinasi ini bertujuan mempercepat pertumbuhan akar dan membantu tanaman muda tumbuh lebih kuat. Memasuki umur 20 dan 35 HST, tanaman diberi campuran NPK seimbang 1 gelas, KNO merah 1 gelas, serta asam humat 3 sendok makan. Pemupukan ini bertujuan memenuhi kebutuhan unsur hara makro agar batang, daun, dan calon bunga berkembang lebih optimal. Pada umur sekitar 30 HST, tanaman mulai dipersiapkan memasuki fase pembungaan dengan pemberian kalsium, magnesium, boron, serta asam humat. Selanjutnya, ketika tanaman memasuki fase generatif, Mas Imung rutin mengocorkan kalium, NPK, dan asam humat setiap 10 hari sekali untuk mendukung pembentukan dan pembesaran buah.

Kalau diperhatikan dari seluruh jadwal pemupukan tadi, ada satu bahan yang hampir tidak pernah absen, yaitu asam humat. Menurut Mas Imung, asam humat selalu dimasukkan dalam setiap aplikasi kocor karena manfaatnya sangat besar bagi tanah maupun tanaman. Beliau mengibaratkan asam humat sebagai pendamping pupuk. Saat pupuk diberikan ke tanah, asam humat membantu unsur hara tidak mudah hanyut terbawa air sehingga lebih lama berada di sekitar perakaran. Dengan begitu, pupuk yang diberikan bisa dimanfaatkan tanaman secara lebih maksimal dan tidak banyak terbuang. Selain itu, pada musim kemarau asam humat juga membantu menjaga kondisi tanah agar tidak cepat kering. Akar menjadi lebih nyaman berkembang sehingga penyerapan unsur hara tetap berjalan dengan baik meskipun cuaca sedang panas. Selain asam humat, ada satu unsur yang menurut Mas Imung tidak boleh dilewatkan, yaitu kalsium. Beliau rutin memberikan kalsium setiap lima hari sekali yang dikombinasikan dengan asam humat. Menurut pengalamannya, pemberian kalsium secara rutin membuat bunga tidak mudah rontok. Buah yang terbentuk juga lebih maksimal dan pertumbuhannya lebih seragam. Tidak hanya itu, batang tanaman terasa lebih kokoh sehingga mampu menopang buah yang semakin banyak. Tingkat kelayuan tanaman juga jauh lebih rendah dibandingkan tanaman yang kekurangan kalsium. Karena itulah beliau selalu menjaga agar kebutuhan kalsium tanaman tetap tercukupi sejak awal pembungaan hingga masa panen.

Jadwal Penyemprotan Nutrisi dan Pestisida

Dalam penyemprotan, Mas Imung memiliki prinsip yang selalu dipegang, yaitu tidak mencampur nutrisi dengan pestisida dalam satu tangki. Menurutnya, keduanya memiliki fungsi berbeda sehingga lebih efektif jika diaplikasikan secara terpisah. Untuk nutrisi daun, beliau menggunakan Gema Flora dan MORDENFOL. Ketika tanaman memasuki fase generatif, ditambahkan KALINET sebagai nutrisi pendukung pembentukan buah. Waktu penyemprotan juga diperhatikan. Setelah panen, tanaman langsung disemprot agar kembali segar dan siap menghasilkan bunga maupun buah berikutnya. Karena masa panen berlangsung sekitar tiga hari sekali, penyemprotan dilakukan mengikuti siklus tersebut.

Dalam pengendalian hama dan penyakit, Mas Imung tidak terpaku pada satu jenis pestisida. Penyemprotan fungisida maupun insektisida selalu disesuaikan dengan kondisi serangan di lapangan dan rutin dirotasi berdasarkan bahan aktifnya. Rotasi ini bertujuan mencegah hama dan patogen menjadi kebal terhadap pestisida yang digunakan. Dengan begitu, pengendalian tetap efektif dan risiko kegagalan dapat ditekan. Prinsipnya sederhana, gunakan pestisida sesuai kebutuhan dan hindari penggunaan bahan aktif yang sama secara terus-menerus.

Cara Mengatasi Bercak Daun

Bercak daun menjadi salah satu kendala yang pernah muncul di lahan Mas Imung. Saat gejala mulai terlihat, beliau tidak langsung memberikan tambahan pupuk. Justru langkah pertama yang dilakukan adalah menghentikan sementara seluruh pemberian nutrisi agar tanaman fokus memulihkan diri. Selanjutnya dilakukan penyemprotan pestisida sesuai kebutuhan setiap dua hari sekali sebanyak tiga kali berturut-turut hingga perkembangan penyakit berhenti. Setelah kondisi tanaman membaik, diberikan VITARON SL untuk merangsang munculnya tunas baru. Jika tanaman sudah kembali normal, barulah jadwal pemupukan dan penyemprotan nutrisi dijalankan seperti semula. Cara ini dinilai lebih efektif karena tanaman tidak dipaksa tumbuh saat masih terserang penyakit.

Melihat hasil panen yang sudah mencapai lebih dari 50 kilogram pada petikan ke-9, keberhasilan Mas Imung menunjukkan bahwa hasil panen tinggi bukan ditentukan oleh banyaknya pupuk yang diberikan, tetapi oleh ketepatan dan konsistensi perawatan.Jadwal pemupukan disesuaikan dengan fase pertumbuhan, asam humat hampir selalu menyertai setiap aplikasi kocor, kalsium diberikan secara rutin untuk menjaga bunga dan buah, penyemprotan nutrisi dipisahkan dari pestisida, serta penyakit ditangani secepat mungkin sebelum menyebar lebih luas. Pola perawatan yang sederhana namun disiplin ini dapat menjadi referensi bagi petani cabai. Tentu saja penerapannya tetap perlu disesuaikan dengan kondisi lahan, cuaca, varietas yang ditanam, dan tingkat serangan hama maupun penyakit di masing-masing daerah. Berikut kondisi terbaru tanaman milik Mas Imung:


Rekomendasi Produk :
MORDENFOL
VITARON
KALINET