PETIK 19 KALI, BUAH CABAI MASIH SELEBAT INI!! CARA BUDIDAYA CABAI AGAR TETAP PRODUKTIF DI MUSIM KEMARAU
Karlina Indah / 26 Aug 2026
Biasanya, semakin sering tanaman cabai dipetik, buah mulai berkurang, ukuran buah mengecil, pertumbuhan tidak sekuat saat awal panen, bahkan tanaman mulai terlihat tua. Tapi, kondisi di lahan milik Slamet Sulistiono, petani asal Srumbung, Magelang, justru berbeda. Tanaman cabainya sudah memasuki petikan ke-19, tetapi buahnya masih terlihat sangat banyak. Tanamannya juga masih aktif menghasilkan buah. Kalau hanya melihat sekilas, mungkin orang tidak menyangka bahwa tanaman tersebut sudah dipanen sebanyak 19 kali. Yang membuatnya semakin menarik, cabai ini bukan ditanam dengan kondisi yang serba ideal. Pada awal pertumbuhan, tanaman cabai milik Pak Slamet justru ditanam tumpangsari dengan jagung. Jarak tanam cabainya juga cukup rapat dengan menggunakan 4 baris tanaman. Waktu tanamnya dilakukan pada bulan Maret. Padahal, kondisi seperti ini bisa menjadi tantangan tersendiri bagi tanaman cabai. Ketika tanaman tumbuh terlalu rapat dan mendapatkan cahaya yang terbatas, tanaman berpotensi mengalami etiolasi. Sederhananya, tanaman akan berusaha mencari cahaya sehingga pertumbuhannya cenderung memanjang. Batang menjadi lebih tinggi, ruas antarbuku lebih panjang, dan tanaman terlihat menjulang. Namun, kondisi tersebut sangat berbanding terbalik dengan tanaman pak Slamet. Batangnya justru pendek. Ruasnya rapat. Tanamannya tidak menjulang tinggi. Tetapi buahnya tetap lebat. Apa yang membuat tanaman cabai ini bisa tetap produktif sampai petikan ke-19? Apakah karena varietasnya? Atau justru pola perawatan yang dilakukan Pak Slamet sejak awal tanam? Mari kita bongkar satu per satu pada artikel berikut ini:
Pendek Batangnya, Lebat Buahnya: Maruyung Plus Jadi Andalan
Setelah melihat kondisi tanaman pada gambar diatas, pertanyaan pertama tentu mengarah pada varietas. Ternyata, cabai yang ditanam Pak Slamet adalah Maruyung Plus. Menurut pengalaman Pak Slamet selama menanam varietas ini, salah satu kelebihannya adalah daya tahan tanaman yang lebih kuat. Dari sekitar 1.200 tanaman, hanya sekitar 2 tanaman yang terkena virus kuning. Selain daya tahan tanaman, karakter buah juga menjadi salah satu alasan Pak Slamet memilih Maruyung Plus. Diameter buahnya besar. Bagi petani, ukuran buah tentu bukan hanya soal penampilan. Buah yang besar dan seragam lebih menarik ketika masuk ke proses pemasaran. Ada lagi satu karakter yang dirasakan Pak Slamet setelah panen. Cabai dipetik setiap sekitar 4 hari sekali, tetapi buah masih terasa keras dan tidak cepat lembek. Artinya, buah memiliki daya simpan yang cukup baik sehingga tidak terlalu cepat mengalami penurunan kualitas setelah dipanen. Selain itu, ruas batang tanaman ini bisa pendek padahal cabai ditanam rapat dan bahkan pernah ditumpangsarikan dengan jagung. Menurut Pak Slamet, kemungkinan besar karakter tersebut memang berkaitan dengan genetik atau karakter bawaan varietasnya. Sebab, di lahan yang sama dan dengan pola perawatan yang relatif sama, varietas cabai lain justru menunjukkan pertumbuhan yang lebih tinggi.
Pemupukan Sederhana, Hasil Luar Biasa
Kalau melihat tanaman yang sudah petik ke-19 masih lebat, jangan langsung berpikir bahwa semuanya hanya karena varietas. Pak Slamet juga melakukan perawatan sejak persiapan lahan. Lahan yang digunakan merupakan bekas tanaman cabai. Bedengan lama tidak dibongkar dan masih digunakan. Namun, sebelum ditanami kembali, lahan terlebih dahulu dipersiapkan. Pak Slamet memberikan Fertiphos, Phonska, dan dolomit. Ketiganya dicampurkan pada lahan, kemudian bedengan dirapikan kembali dan ditutup menggunakan mulsa. Setelah selesai dipersiapkan, lahan tidak langsung digunakan untuk menanam cabai. Lahan didiamkan terlebih dahulu sambil menunggu bibit cabai siap ditanam. Menariknya, selama masa menunggu tersebut, Pak Slamet tidak membiarkan lahannya kosong. Lahan juga dimanfaatkan untuk menanam jagung.
Setelah bibit cabai siap dan mulai ditanam, perawatan dilakukan secara rutin. Salah satunya adalah pengocoran seminggu sekali. Untuk pupuk yang digunakan dalam pengocoran, Pak Slamet menerapkan pola rolingan. CALHA diberikan secara bergantian dengan Mutiara + DAP + asam humat. Menurut Pak Slamet, calha dirutinkan dalam perawatan karena digunakan untuk membantu membentuk vigor tanaman yang lebih kuat. Selain pengocoran, perawatan juga dilakukan melalui penyemprotan. Pak Slamet menggunakan DAP, Abacel, dan mankozeb dalam program penyemprotannya. Perawatan tersebut terus dilakukan selama pertumbuhan hingga memasuki fase produksi. Seiring perkembangan tanaman, bahan yang digunakan juga disesuaikan. Jika sebelumnya menggunakan DAP, saat ini DAP sudah diganti dengan MKP. Dari sini terlihat bahwa mempertahankan tanaman cabai sampai petikan ke-19 tidak hanya mengandalkan satu faktor. Ada karakter varietas, ada persiapan lahan, ada pemupukan, ada pengocoran, ada penyemprotan, dan tentu saja ada perawatan yang dilakukan secara rutin.
Melihat tanaman cabai Pak Slamet, ada satu pelajaran menarik yang bisa diambil petani. Tanaman cabai yang produktif bukan selalu tanaman yang tumbuh paling tinggi. Begitu juga tanaman yang memiliki batang pendek bukan berarti pertumbuhannya buruk. Yang lebih penting adalah bagaimana tanaman mampu membentuk pertumbuhan yang kuat dan mengalokasikan hasil pertumbuhannya untuk membentuk bunga dan buah. Maruyung Plus milik Pak Slamet menjadi salah satu contoh menarik. Tanaman ditanam cukup rapat, pernah tumpangsari dengan jagung, tetapi ruas batang tetap pendek dan tanaman masih mampu menghasilkan buah dalam jumlah banyak. Dan yang paling menarik, semua itu masih terlihat pada petikan ke-19. Tentu, hasil di setiap lahan bisa berbeda karena kondisi tanah, cuaca, tekanan hama dan penyakit, pola pemupukan, serta cara perawatan masing-masing petani juga berbeda. Namun, pengalaman Pak Slamet menunjukkan bahwa umur produktif tanaman cabai tidak hanya ditentukan oleh berapa kali tanaman sudah dipetik. Selama tanaman masih sehat, pertumbuhannya kuat, dan mampu mempertahankan pembentukan bunga serta buah, peluang untuk terus menghasilkan masih terbuka. Jadi, kalau biasanya petani mulai khawatir ketika tanaman sudah berkali-kali dipanen, mungkin sekarang ada satu hal yang bisa diperhatikan: Bukan berapa kali sudah dipetik, tetapi bagaimana kondisi tanamannya setelah dipetik berkali-kali. Karena tanaman yang masih sehat tentu masih punya cerita untuk panen berikutnya.
Cari
KATEGORI : |
|---|
| Berita Inspirasi |
| Solusi Masalah |
| Kiat Pertanian |
| Pengetahuan |
Rekomendasi Produk : |
|---|
| CAL-HA |
Tags : |
|---|
Rekomendasi Produk : |
|---|
| CAL-HA |