Artikel

MUSIM KEMARAU TIDAK BUTUH FUNGISIDA!! TEMBUS 1 KG/TANAMAN, INI CARA MEMPERPANJANG MASA PANEN CABAI !!

MUSIM KEMARAU TIDAK BUTUH FUNGISIDA!! TEMBUS 1 KG/TANAMAN, INI CARA MEMPERPANJANG MASA PANEN CABAI !!


Karlina Indah / 25 Oct 2026

Panen cabai sudah belasan kali, tetapi buahnya masih lebat, ukurannya tetap seragam, dan tanaman masih berdiri sehat. Kok bisa? Biasanya, semakin sering cabai dipetik, tanaman mulai menunjukkan penurunan produktivitas. Buah semakin sedikit, ukurannya mengecil, bahkan banyak tanaman yang mulai layu dan mati sebelum masa panen benar-benar selesai. Akibatnya, hasil panen terus menurun, padahal biaya perawatan masih harus dikeluarkan. Namun, kondisi berbeda terlihat pada lahan cabai milik Mas Fauzan, petani dari Kecamatan Ngluwar. Tanaman cabainya sudah dipetik sebanyak 15 kali, tetapi buahnya masih sangat lebat dengan ukuran yang relatif seragam. Lebih menarik lagi, dari total 1.300 populasi tanaman, hanya 4 tanaman yang mati. Artinya, tingkat kematian tanaman sangat rendah, bahkan belum mencapai 1%. Bukan hanya itu, total tonase panen telah mencapai 1 kg per tanaman. Memasuki petikan ke-9, hasil panennya mulai menembus angka satu kuintal. Puncaknya, pada petikan ke-13, Mas Fauzan berhasil mendapatkan hasil panen sebanyak 160 kg dalam sekali petik!

Lantas, apa rahasia di balik tanaman cabai yang mampu bertahan produktif hingga belasan kali panen? Bagaimana cara merawat tanaman agar buah tetap lebat, ukuran tetap terjaga, dan kematian tanaman bisa ditekan seminimal mungkin? Ternyata, panen panjang bukan sekadar soal memilih benih yang bagus. Perawatan tanaman selama masa pertumbuhan hingga fase pembuahan juga memegang peranan penting. Yuk, simak tips dan trik perawatan cabai ala Mas Fauzan berikut ini! Siapa tahu, cara yang diterapkannya bisa menjadi inspirasi untuk memperpanjang masa panen dan meningkatkan hasil cabai di lahan Sobat Mitra Bertani.

Kunci Tanaman Tetap Produktif hingga Belasan Kali Petik

Salah satu kunci agar tanaman cabai tetap produktif meskipun sudah dipetik berkali-kali adalah menjaga kebutuhan nutrisi tanaman tetap terpenuhi. Menurut Mas Fauzan, perawatan tidak boleh berhenti hanya karena tanaman sudah mulai berbuah. Justru ketika buah terus dipanen, tanaman perlu mendapatkan asupan nutrisi yang cukup agar tetap kuat, bunga terus bermunculan, dan buah berikutnya bisa tumbuh dengan ukuran yang relatif seragam.

Untuk menjaga produktivitasnya, Mas Fauzan rutin memberikan kalsium. Aplikasinya dilakukan secara bergantian, mulai dari kocor kalsium tunggal hingga pemberian kalsium yang dicampur dengan KCl melalui lubang tanam. Saat buah mulai memerah, pemupukan susulan juga tetap dilakukan. Untuk 1.300 tanaman, pupuk yang diberikan terdiri dari Novatek sebanyak 3 kg, Fertiphos 5 kg, dan Grower 7 kg. Selain itu pemupukan melalui kocor juga diberikan setiap 2–3 kali petikan menggunakan NPK Grower atau Novatek, menyesuaikan kebutuhan tanaman.

Ada satu hal yang tidak kalah penting, yaitu membasahi lahan sehari sebelum pengocoran pupuk. Langkah ini membantu menjaga kelembapan tanah sehingga pupuk yang diberikan lebih mudah larut dan dapat tersedia bagi akar. Tanah yang terlalu kering bisa menghambat penyerapan air dan unsur hara. Jadi, jangan hanya memperhatikan jenis dan dosis pupuk, tetapi perhatikan juga kondisi tanah sebelum pemupukan.

Selain nutrisi, kesehatan akar juga menjadi perhatian. Mas Fauzan membedakan tempat aplikasinya, yaitu pupuk dikocorkan melalui lubang pupuk, sedangkan TRICHODERMA diberikan melalui lubang tanam. Selama masa budidaya, Trichoderma sudah diaplikasikan sebanyak tiga kali. Bahkan, saat musim kemarau, aplikasi tetap dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan perakaran. Hasilnya cukup menarik, dari total 1.300 tanaman, hanya empat tanaman yang mati.

Perawatan juga dilakukan melalui penyemprotan. Saat fase pembungaan, Mas Fauzan menggunakan KALINET, kemudian mengulang aplikasinya setiap dua kali petikan. MORDEN FOL dan VITARON SL turut digunakan dalam perawatan rutin. Dengan perawatan yang berkelanjutan, titik tumbuh tanaman tetap aktif, buah terus terbentuk, dan ukuran buah relatif seragam meskipun panen sudah berlangsung berkali-kali. Intinya, jangan menunggu tanaman melemah baru melakukan perawatan. Jaga nutrisi, kelembapan tanah, kesehatan akar, dan kondisi tanaman secara rutin agar produktivitas cabai bisa dipertahankan lebih lama.

Tanaman Tetap Sehat dengan Perawatan Hemat

Tanaman cabai bisa tetap produktif sampai belasan kali petikan bukan hanya karena pemupukannya terjaga, tetapi juga karena kondisi tanamannya sehat. Sebab, percuma buah lebat kalau tanaman terserang hama dan penyakit . Untuk mengendalikan hama, Mas Fauzan melakukan rolling insektisida menggunakan Abamektin, Nomite, dan Rampok secara bergantian. Sementara itu, penggunaan fungisida justru sangat minim. Selama budidaya, Mas Fauzan baru melakukan penyemprotan fungisida sebanyak dua kali dengan dosis rendah. Bahan aktif yang digunakan adalah azoksistrobin dan difenokonazol. Kondisi ini tentu menarik, terlebih ketika petani lain masih melakukan penyemprotan fungisida secara rutin meskipun sedang musim kemarau. Untuk mengantisipasi busuk batang dan layu, Mas Fauzan juga melakukan pengolesan Copcide pada beberapa batang tanaman yang awalnya terlihat lemas. Perlakuan ini tidak dilakukan pada semua tanaman, melainkan hanya pada tanaman tertentu yang menunjukkan gejala awal.

Lalu, bagaimana menghadapi musim penghujan yang biasanya meningkatkan risiko penyakit akibat kelembapan tinggi? Mas Fauzan menyiapkan langkah antisipasi dengan mengocorkan Trichoderma. Beberapa hari kemudian, ia menaburkan dolomit sebanyak tiga sak, ASAM HUMAT setengah kilogram, dan kalsium sebanyak 4 kg di lubang tanam. Kombinasi ketiga bahan ini ditujukan untuk menjaga pH tanah tetap stabil ketika memasuki musim penghujan nanti.

Dari pengalaman Mas Fauzan, ada pelajaran penting yang bisa diterapkan petani. Tanaman yang sehat sejak awal akan lebih mudah dirawat dan berpeluang mempertahankan produktivitas lebih lama. Karena itu, persiapan lahan perlu dilakukan dengan baik, termasuk pengolahan tanah, pendiaman lahan, dan pemberian pupuk dasar sesuai kebutuhan. Setelah tanaman tumbuh, perawatan nutrisi dan pengendalian hama penyakit juga harus disesuaikan dengan kondisi tanaman, bukan sekadar mengikuti kebiasaan. Dengan perawatan yang tepat sasaran, petani tidak harus selalu menambah banyak produk untuk menjaga tanaman tetap sehat. Yang terpenting adalah memahami kebutuhan tanaman, rutin mengamati kondisi lahan, dan mengambil tindakan sebelum masalah berkembang lebih parah.