Artikel

Biaya Semprot Kentang Makin Mahal? Cara Ini Bikin Perawatan Kentang Lebih Hemat dan Tanaman Tetap Sehat

Biaya Semprot Kentang Makin Mahal? Cara Ini Bikin Perawatan Kentang Lebih Hemat dan Tanaman Tetap Sehat


Karlina Indah / 11 Jul 2026

Kentang menjadi salah satu komoditas unggulan di dataran tinggi seperti Kejajar, Wonosobo. Namun, banyak petani mengeluhkan biaya budidaya yang semakin tinggi, terutama untuk pembelian pestisida dan pengendalian penyakit. Kondisi cuaca yang lembap juga membuat tanaman kentang lebih rentan terserang jamur sehingga penyemprotan harus dilakukan lebih sering. Berangkat dari kondisi tersebut, Pak Muhidi, petani kentang asal Kejajar, Wonosobo, memilih cara yang berbeda. Beliau membudidayakan kentang di dalam screenhouse. Sekilas memang terlihat membutuhkan modal yang besar, tetapi menurut beliau justru cara ini mampu menghemat biaya budidaya dalam jangka panjang.

Kenapa Memilih Screenhouse?

Banyak petani menganggap screenhouse hanya cocok untuk tanaman hortikultura tertentu. Padahal, untuk kentang justru memberikan banyak keuntungan. Menurut Pak Muhidi, biaya terbesar memang berada di awal pembangunan screenhouse. Namun setelah berdiri, bangunan tersebut bisa digunakan hingga minimal lima tahun, bahkan lebih jika dirawat dengan baik. Keuntungan yang paling terasa adalah penghematan biaya perawatan. Di dalam screenhouse, intensitas serangan hama dan penyakit jauh lebih rendah dibandingkan budidaya di lahan terbuka. Kondisi tanaman juga lebih terlindungi dari hujan yang sering memicu berkembangnya penyakit jamur. Hal ini sangat penting karena kentang merupakan tanaman yang cukup rentan terhadap serangan penyakit akibat kelembapan tinggi. Akibatnya, penggunaan pestisida menjadi lebih sedikit dan biaya produksi pun ikut turun. Penyemprotan tidak perlu terlalu sering sehingga tenaga kerja juga lebih hemat. Jika di lahan terbuka petani sering kali harus menyemprot dalam interval yang lebih rapat karena faktor cuaca, di screenhouse penyemprotan dapat dilakukan setiap 10 hari sekali.

Kentang yang dibudidayakan Pak Muhidi bukan untuk konsumsi, melainkan sebagai kentang bibit. Dalam perbanyakan benih kentang dikenal beberapa kelas benih, mulai dari G0, G1, G2, hingga seterusnya. Apabila bibit G0 langsung ditanam di lahan terbuka, biasanya kualitasnya akan langsung turun menjadi G2. Berbeda jika ditanam di dalam screenhouse. Lingkungan yang lebih terlindungi membuat bibit G0 dapat menghasilkan benih G1, sehingga kualitas benih tetap terjaga dan memiliki nilai jual yang lebih tinggi. Inilah salah satu alasan mengapa screenhouse menjadi investasi yang cukup menguntungkan bagi petani benih kentang.

Menariknya, screenhouse milik Pak Muhidi tidak hanya ditanami kentang. Beliau juga menerapkan sistem tumpangsari dengan tomat ceri dan strawberry. Cara ini bertujuan agar lahan lebih produktif sekaligus memberikan tambahan pemasukan. Tomat ceri dipilih karena memiliki nilai jual yang lebih tinggi dibandingkan tomat konsumsi biasa. Menurut beliau, pasar tomat ceri juga lebih jelas karena banyak diserap oleh supermarket dengan harga yang relatif stabil. Jika harga tomat besar sering naik turun mengikuti kondisi pasar, tomat ceri justru memiliki harga yang lebih pasti, sekitar Rp30.000 per kilogram. Dengan adanya tanaman pendamping tersebut, pendapatan petani tidak hanya bergantung pada satu komoditas saja.

Semua Berawal dari Tanah

Pak Muhidi memiliki satu prinsip yang selalu beliau pegang dalam budidaya. "Kalau tanahnya sehat, tanaman akan lebih mudah tumbuh sehat."Menurut beliau, banyak petani terlalu fokus memberikan pupuk dan pestisida, tetapi lupa memperbaiki kondisi tanah. Padahal tanah merupakan tempat hidup akar sekaligus sumber utama air dan unsur hara bagi tanaman. Jika struktur tanah sudah rusak, sebaik apa pun pupuk yang diberikan tidak akan memberikan hasil yang maksimal. Karena itu, sebelum tanam beliau selalu memprioritaskan pembenahan tanah.

Untuk memperbaiki kondisi tanah, Pak Muhidi rutin menggunakan kombinasi POWERSOIL dan BIOSIGMA PLUS. Kedua bahan tersebut difermentasi terlebih dahulu selama 1 x 24 jam. Setelah proses fermentasi selesai, larutan kemudian disiramkan ke lahan yang sudah diolah tetapi belum dipasang mulsa. Cara ini dilakukan baik untuk budidaya di lahan terbuka maupun di dalam screenhouse. Menurut pengalaman beliau, pembenahan tanah memberikan banyak manfaat. Beberapa manfaat yang paling terasa antara lain: Umbi kentang yang mengalami bercak hitam menjadi jauh lebih sedikit, angka kematian tanaman menurun, tanaman tumbuh lebih seragam dan kondisi tanah menjadi lebih gembur sehingga perkembangan umbi lebih optimal. Perlakuan sederhana ini menjadi salah satu kunci keberhasilan budidaya yang sering diabaikan oleh banyak petani.

Menjaga Pertumbuhan Tanaman Tetap Optimal

Selain memperbaiki tanah, Pak Muhidi juga memberikan perlakuan sesuai fase pertumbuhan tanaman. Pada fase awal pertumbuhan, beliau menggunakan MICOBIO sebagai perangsang akar. Akar yang berkembang dengan baik akan membuat tanaman lebih mudah menyerap air maupun unsur hara sehingga pertumbuhan menjadi lebih cepat. Ketika tanaman mengalami tekanan akibat perubahan cuaca atau setelah dilakukan perlakuan tertentu, beliau memberikan PREMINO sebagai anti stres tanaman. Tanaman yang tidak mengalami stres akan tetap aktif melakukan fotosintesis sehingga pertumbuhannya tidak terhambat. Memasuki umur sekitar 65–70 hari setelah tanam (HST), fokus pemeliharaan diarahkan pada pembentukan dan pengisian umbi. Pada fase tersebut beliau menggunakan KALINET untuk membantu proses pembuahan dan mendukung kualitas hasil panen. Dengan pemberian produk sesuai kebutuhan tanaman, pertumbuhan menjadi lebih stabil dari awal hingga menjelang panen. Berikut kondisi terkini kentang milih pak muhidi:

Pengalaman Pak Muhidi membuktikan bahwa keberhasilan budidaya bukan hanya ditentukan oleh banyaknya pupuk atau pestisida yang digunakan, tetapi dimulai dari tanah yang sehat, lingkungan tanam yang baik, serta perawatan yang dilakukan sesuai kebutuhan tanaman. Dengan konsep tersebut, budidaya kentang di screenhouse dapat menjadi pilihan menarik bagi petani yang ingin meningkatkan efisiensi biaya sekaligus menghasilkan benih maupun panen dengan kualitas yang lebih baik.


Rekomendasi Produk :
POWERSOIL
KALINET
PREMINO