Artikel

CARA MENGATASI OVERDOSIS PESTISIDA PADA CABAI RAWIT! DAUN KEMBALI SEHAT, BUAH TETAP LEBAT

CARA MENGATASI OVERDOSIS PESTISIDA PADA CABAI RAWIT! DAUN KEMBALI SEHAT, BUAH TETAP LEBAT


Karlina Indah / 08 Jun 2026

Menanam cabai rawit memang terlihat sederhana, tetapi menghasilkan tanaman yang sehat, rimbun, dan produktif membutuhkan perhatian serta perawatan yang konsisten. Tidak sedikit petani maupun penghobi tanaman cabai yang menghadapi berbagai kendala di lapangan, mulai dari pertumbuhan yang kurang optimal hingga serangan penyakit yang mengancam hasil panen. Pada artikel kali ini, kita akan belajar langsung dari pengalaman A Ronron, TikTokers pemilik akun diajarngebon yang dikenal aktif membagikan praktik budidaya cabai rawit di media sosial. Melalui perawatan yang rutin dan tepat, tanaman cabai rawit yang dibudidayakannya mampu tumbuh subur serta menghasilkan buah yang melimpah. Selain membahas langkah-langkah perawatan untuk memaksimalkan produksi buah, artikel ini juga akan mengulas berbagai masalah yang sering ditemui selama budidaya. Di antaranya cara menangani tanaman yang mengalami overdosis pestisida serta strategi mencegah penyakit layu agar tidak menyebar ke tanaman lain. Dengan memahami teknik perawatan dan penanganan masalah sejak dini, peluang mendapatkan panen cabai rawit yang sehat dan berlimpah tentu akan semakin besar.

Perawatan Cabai Rawit Ala A Ronron: Pupuk Kimia Minim, Buah Tetap Maksimal

Menurut A Ronron, kunci utama menghasilkan cabai rawit yang sehat dan produktif bukan terletak pada banyaknya pupuk yang diberikan, melainkan bagaimana kebutuhan tanaman dipenuhi secara tepat dan seimbang. Karena kebutuhan unsur hara dari dasar tanam sudah dianggap cukup maksimal, pengocoran selama budidaya hanya dilakukan sebanyak tiga kali. Pengocoran pertama dilakukan saat fase vegetatif sekitar umur 15 HST menggunakan campuran NPK 16-16-16, KNO merah, Isaru, UltraDAP, dan asam humat. Selanjutnya pada umur sekitar 45 HST atau masa peralihan vegetatif ke generatif, diberikan NPK 16-16-16, boron, KNO putih, Isaru, dan asam humat. Sedangkan pada umur sekitar 140 HST, fokus nutrisi diarahkan untuk menjaga produksi buah dengan pemberian MKP, boron, Meroke SOP, Isaru, dan asam humat. Menariknya, asam humat selalu masuk dalam setiap pengocoran. Menurut A Ronron, asam humat ibarat koki yang membantu mengatur dan memaksimalkan penyerapan nutrisi oleh tanaman. Selain itu, aplikasi kalsium yang dikombinasikan dengan asam humat rutin diberikan setiap 10 hari sekali, tentu dengan menyesuaikan kondisi cuaca dan curah hujan.

Untuk penyemprotan, perlakuan dibedakan sesuai kebutuhan tanaman. Pada fase vegetatif, fokus utama adalah menjaga tanaman dari gangguan hama dan penyakit. Insektisida yang digunakan secara bergantian antara lain abamektin, imidakloprid, dan diafentiuron. Saat awal tanam pernah terjadi serangan walang dan belalang yang cukup mengganggu, sehingga dilakukan penanganan menggunakan insektisida berbahan aktif fipronil. Sementara untuk fungisida, A Ronron mengandalkan mankozeb dan klorotalonil. Karena daun yang dimakan belalang meninggalkan banyak luka, sempat muncul serangan jamur bercak pucuk sehingga dilakukan penyemprotan dimetomorf sebanyak dua kali. Untuk mendukung pertumbuhan tanaman, nutrisi daun seperti Provit Hijau dan Vitoflek diberikan sesuai kebutuhan tanaman di lapangan.

Memasuki fase generatif, strategi penyemprotan lebih banyak disesuaikan dengan kondisi dan serangan yang muncul. Busuk ranting ditangani menggunakan Merivon, busuk daun menggunakan Zampro, sedangkan busuk batang ditangani dengan Previcur. Jika muncul patek atau antraknosa, digunakan fungisida berbahan aktif karbendazim dan azoksistrobin. Artinya, fungisida tidak digunakan secara berlebihan, tetapi disesuaikan dengan masalah yang benar-benar terjadi di lapangan. Untuk mendukung pembentukan bunga dan buah, saat awal pembungaan diberikan Provit Maxi. Setelah bunga lepas dan mulai menjadi bakal buah, aplikasi Kalinet dirotasi dengan MKP dan Meroke SOP. A Ronron juga menghindari pupuk kalium yang mengandung klorin (Cl) karena dinilai kurang baik untuk produktivitas cabai. Menariknya lagi, hampir setiap kali penyemprotan selalu ditambahkan Kover WP dan Vitaron SL sebagai pendukung agar tanaman tetap sehat dan produktif sepanjang musim tanam. Berikut hasil perawatan a ronron yang sangat mempesona:

Kendala di Lapangan dan Cara Penanganannya

Meski perawatan sudah dilakukan dengan baik, A Ronron mengakui bahwa kendala di lapangan tetap ada. Namun yang terpenting bukan bagaimana menghindari masalah sepenuhnya, melainkan bagaimana mengambil tindakan yang tepat saat masalah muncul. Salah satu kendala yang cukup mengganggu adalah serangan ulat bor buah. Untuk mengatasinya, dilakukan rotasi insektisida menggunakan emamektin benzoat, metomil, dan lufenuron. Namun dalam kasus ini, serangan ulat belum benar-benar tuntas karena diduga sudah mulai terjadi resistensi terhadap beberapa bahan aktif yang digunakan. Rencananya, A Ronron akan lebih dulu menggunakan pengendalian biologis untuk menekan populasi hama dan mengembalikan keseimbangan di lahan. Setelah kondisi lebih terkendali, baru dilakukan aplikasi insektisida dengan golongan yang tingkat resistensinya masih rendah. Saat proses pengendalian ulat tersebut, muncul masalah lain yaitu daun keriting akibat overdosis pestisida. Untuk pemulihan tanaman, aplikasi Vitaron dan Premino diperkuat. Hasilnya cukup cepat terlihat, bahkan setelah satu kali aplikasi kondisi tanaman mulai menunjukkan perbaikan.

Kendala berikutnya terjadi saat tanaman sudah mulai berbuah. Produksi buah berjalan baik, tetapi pertumbuhan pucuk tiba-tiba macet. Jika kondisi ini dibiarkan, tanaman akan sulit membentuk cabang dan bunga baru sehingga potensi panen berikutnya bisa menurun. Untuk mengatasinya, dilakukan aplikasi pupuk fosfat merk Mordenfol sebanyak dua kali. Setelah itu pertumbuhan pucuk kembali normal dan tanaman kembali aktif membentuk tunas baru.

Masalah lain yang saat ini dihadapi A Ronron adalah layu dan busuk batang. Menariknya, meskipun ada tanaman yang terserang layu, penyebarannya tidak sampai menjalar ke tanaman di kanan dan kirinya. Menurut A Ronron, tindakan cepat menjadi kunci. Tanaman yang menunjukkan gejala segera dikocor menggunakan tembaga hidroksida untuk menekan perkembangan patogen di area perakaran. Setelah perlakuan tersebut, lahan tidak dibiarkan kosong begitu saja. Justru mikroba baik seperti Trichoderma, M21, dan Isaru kembali dimasukkan melalui pengocoran sebagai bentuk tanggung jawab setelah aplikasi tembaga. Tujuannya agar keseimbangan mikroorganisme tanah tetap terjaga, akar tetap sehat, dan risiko penyebaran penyakit bisa ditekan semaksimal mungkin.


Rekomendasi Produk :
MORDENFOL
VITARON
KOVER WP
KALINET