Artikel

THRIPS MEMBANDEL, CABAI TETAP LEBAT! CARA MENGATASI THRIPS DAN MENJAGA BUAH TETAP BESAR SAMPAI ATAS DI LAHAN BEKAS

THRIPS MEMBANDEL, CABAI TETAP LEBAT! CARA MENGATASI THRIPS DAN MENJAGA BUAH TETAP BESAR SAMPAI ATAS DI LAHAN BEKAS


Karlina Indah / 19 Aug 2026

Budidaya cabai di lahan bekas tanpa olah lahan dan tanpa tambahan pupuk lagi, apakah bisa menghasilkan tanaman yang bagus? Banyak petani mungkin masih ragu. Biasanya setelah satu musim tanam, lahan dianggap sudah banyak mengambil unsur hara sehingga perlu diolah kembali dan diberi pupuk sebelum ditanami. Tapi kondisi di lapangan ternyata bisa berbeda. Salah satunya seperti yang dilakukan Mas Fitrianto, petani dari Selomerto, Wonosobo. Cabai ditanam di lahan bekas tanpa olah lahan dan tanpa tambahan pupuk lagi. Hasilnya justru cukup memuaskan, terutama melihat kondisi musim seperti sekarang. Bukan berarti selama budidaya tidak ada kendala. Tanaman sempat menghadapi serangan thrips yang cukup mengganggu. Bahkan sebelumnya, serangan thrips di lahan tersebut sudah cukup sulit dikendalikan karena mulai resisten terhadap insektisida. Namun, masalah tersebut akhirnya bisa teratasi dan kondisi tanaman kembali membaik.

Yang menarik, varietas yang ditanam adalah Langgeng Tavi. Menurut pengamatan Mas Fitrianto, sejauh ini tanaman terlihat aman dari masalah virus. Ia menyebut kondisi tanaman “0% bule”. Dibandingkan beberapa varietas tahan virus lainnya yang mudah terserang layu, bercak daun sulit dikendalikan dan  masih ada yang terserang virus kuning, tanaman Langgeng Tavi di lahannya saat ini masih terlihat sehat. Dari vigor tanaman, pertumbuhannya sekilas mirip Langgeng 58. Buahnya juga menjadi salah satu keunggulan, lebat, gembel, tebal, dan daya simpannya tinggi, mampu bertahan untuk pola petik sekitar lima hari sekali tanpa cepat benyek. Saat muda buah tegak ke atas, kemudian turun ketika mulai matang. Di pasaran, harganya juga masih masuk kelas ori Tavi. Lalu, apa yang membuat tanaman tetap mampu tumbuh dan berproduksi di lahan bekas tanpa olah lahan seperti ini? Baca penjelasan lengkapnya di bawah ini:

Perawatan Cabai di Lahan Bekas Tanpa Olah Lahan

Kalau melihat kondisi lahannya, mungkin banyak petani yang berpikir, “Masa lahan bekas bisa langsung ditanami lagi?” Apalagi bedengan sudah kering, mulsa sudah sobek-sobek, dan tanaman sebelumnya juga tidak dicabut sampai bersih. Tetapi di lahan Mas Fitrianto, cara seperti ini justru dicoba. Lahan tidak diolah kembali. Mulsa juga tidak dicopot. Tidak ada tambahan pupuk dasar. Yang dilakukan hanya membuat lubang tanam baru dengan posisi lubang yang dipindah dari lubang tanaman sebelumnya. Jadi, lahan bekas langsung dimanfaatkan untuk tanaman berikutnya. Sebelum cabai ditanam, Mas Fitrianto melakukan kocor fungisida dan insektisida terlebih dahulu. Karena sisa akar tanaman sebelumnya masih ada di dalam tanah, ia khawatir masih ada jamur atau hama yang tertinggal. Setelah itu, beberapa hari kemudian masuk Trichoderma, asam humat, dan silika carbon. Tujuannya bukan sekadar mengejar pertumbuhan tanaman, tetapi membantu menyiapkan kondisi tanah sebelum cabai mulai tumbuh. Saat hari H penanaman, setiap lubang tanam diberi MICOBIO. Ini bukan pertama kalinya Mas Fitrianto menggunakan Micobio. Awalnya ia juga sempat tidak percaya. Bagaimana mungkin bahan yang diberikan hanya sedikit bisa membantu akar tanaman? Tetapi setelah melihat hasilnya sendiri, pendapatnya berubah. Akar terlihat lebih kuat dan berkembang panjang, sehingga tanaman bisa tumbuh dengan lebih mantap.

Untuk perawatan awal, pada umur 5, 10, dan 15 HST dilakukan pengocoran kombinasi asam amino, phospat, dan asam humat. Kemudian umur 20 HST diberikan Mutiara merah bersama asam humat. Setelah itu, setiap 10 hari sekali diberikan phospat dan kalsium dengan dosis yang disesuaikan kondisi serta kebutuhan tanaman sampai umur sekitar 90 HST. Menariknya, selama budidaya ini tidak menggunakan pupuk tugal sama sekali. Ada satu bahan yang selalu ikut ketika melakukan kocor, yaitu asam humat. Mas Fitrianto mengaku sudah merasakan sendiri perbedaannya. Saat kocor tidak disertai asam humat, pernah ada tanaman yang mengalami layu. Dari pengalaman tersebut, asam humat akhirnya selalu dimasukkan dalam kocoran. Contoh produk asam humat yang bisa digunakan yaitu POWERSOIL

Untuk penyemprotan, saat fase vegetatif digunakan insektisida, fungisida, dan MORDEN FOLL. Ketika masuk fase generatif, morden foll diganti  KALINET dan MKP. Hasilnya terlihat pada buah. Buah tetap gembel sampai bagian atas tanaman, ukurannya juga tidak cepat mengecil. Kalinet pernah digunakan satu kali dengan dosis 100 ml, sedangkan untuk pemakaian rutin digunakan sekitar 40 ml. Dan setiap kali penyemprotan, Kover WP juga ikut digunakan. Berikut kondisi tanaman cabai milik Mas Fitrianto yang full buah tidak seperti cabai tahan virus pada umumnya:

Thrips Membandel? Ini Cara Pengandalian yang Wajib Petani Coba.

Salah satu masalah yang sempat dihadapi Mas Fitrianto selama budidaya adalah serangan thrips. Awalnya pengendalian dilakukan menggunakan insektisida bahan aktif abamektin dan diafentiuron. Namun, setelah beberapa kali digunakan, hasilnya ternyata tidak sesuai harapan. Thrips masih tetap ditemukan dan tanaman belum menunjukkan pemulihan seperti yang diharapkan. Kondisi seperti ini sebenarnya sering membuat petani bingung. Obat yang dulu manjur, kok sekarang seperti tidak mempan? Mas Fitrianto kemudian mengganti bahan aktif yang digunakan. Pengendalian dilanjutkan dengan insektisida bahan aktif fipronil dan nitenpyram. Pergantian bahan aktif ini dilakukan karena penggunaan insektisida yang sama terus-menerus bisa membuat tekanan seleksi terhadap hama semakin tinggi. Akibatnya, insektisida yang sebelumnya mampu mengendalikan thrips bisa mengalami penurunan efektivitas. Serangan mulai terkendali, tanaman kemudian dibantu pemulihannya menggunakan VITARON SL. Jadi, bukan hanya mengejar hamanya mati, tetapi tanaman yang sudah mengalami gangguan juga perlu dibantu agar bisa kembali tumbuh dan berkembang dengan baik.

Pengalaman Mas Fitrianto menunjukkan bahwa keberhasilan budidaya bukan hanya ditentukan oleh apakah lahannya baru atau bekas. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana petani menyiapkan tanaman, menjaga kondisi akar dan tanah, memenuhi kebutuhan nutrisi, serta cepat membaca masalah ketika tanaman mulai terganggu. Termasuk ketika menghadapi thrips. Jangan hanya terpaku pada obat apa yang paling ampuh,  tetapi lihat juga apakah insektisida yang digunakan masih efektif, bagaimana kondisi tanaman, dan bagaimana strategi pengendaliannya. Karena di lahan, pengalaman sering kali menjadi guru terbaik. Apa yang berhasil di satu musim bisa menjadi pelajaran berharga untuk musim berikutnya.