Bunga dan Buah Cabai Rawit Tidak Pernah Habis! Ternyata Rahasianya Ada di Pupuk Ini
Karlina Indah / 10 Jun 2026
Siapa sangka, di tengah harga sarana produksi yang terus naik, masih ada petani yang bisa menanam cabai tanpa mengeluarkan modal tambahan yang besar. Pengalaman inilah yang dirasakan oleh A. Rezan Parmana, petani cabai asal Kabupaten Garut. Berkat strategi tumpangsari dengan kembang kol yang dilakukan sebelumnya, biaya perawatan tanaman cabai seluruhnya berasal dari keuntungan hasil panen kembang kol. Dengan kata lain, cabai yang ditanamnya menjadi tanaman bonus yang tumbuh dari keuntungan usaha sebelumnya.
Saat memasuki lahan miliknya, pemandangan yang terlihat benar-benar membuat kagum. Tanaman cabai tumbuh sangat rimbun dan rapat hingga suasananya seperti berjalan di tengah gua hijau. Cabang dan daun tumbuh subur, batang kokoh, serta buah menggantung lebat di hampir setiap tanaman. Kondisi seperti ini tentu menjadi impian banyak petani cabai. Kurang lebih seperti gambar dibawah inilah kondisi tanaman milik A rezan:
Hasil panennya pun tidak kalah mengesankan. Memasuki petikan ke-10, total hasil panen telah mencapai sekitar 1,5 ton. Bahkan pada masa panen tertinggi, A Rezan mampu mendapatkan hingga 350 kilogram cabai dalam satu kali petikan dari sekitar 2.000 batang tanaman. Angka yang menunjukkan bahwa produktivitas tinggi bukan hanya soal pemupukan, tetapi juga dimulai dari pemilihan benih yang tepat sejak awal.
Ketika ditanya mengenai varietas yang digunakan, A Rezan tanpa ragu menyebut Langgeng 58. Menurutnya, pemilihan benih merupakan faktor yang sangat menentukan keberhasilan budidaya. Salah memilih benih bisa berakibat fatal karena akan memengaruhi pertumbuhan, ketahanan tanaman, hingga hasil panen. Menariknya, ini bukan kali pertama ia menanam Langgeng 58. Sudah dua musim tanam varietas tersebut digunakan, dan hasilnya selalu memberikan kepuasan di lapangan.
Langgeng 58, Varietas Andal untuk Hasil Maksimal
Keberhasilan budidaya cabai yang diraih A. Rezan Parmana tentu bukan terjadi begitu saja. Salah satu faktor utama yang menurutnya sangat menentukan adalah pemilihan varietas. Dari berbagai varietas yang pernah dicoba, Langgeng 58 menjadi pilihan yang terus digunakan hingga dua musim tanam berturut-turut. Alasannya sederhana, varietas ini mampu memberikan performa yang memuaskan baik dari sisi pertumbuhan tanaman maupun hasil panennya.
Menurut A Rezan, salah satu keunggulan utama Langgeng 58 adalah ketahanannya terhadap beberapa penyakit penting pada tanaman cabai. Di lapangan, tanaman terbukti cukup kuat menghadapi serangan antraknosa dan busuk batang yang sering menjadi momok bagi petani. Selain itu aman dari serangan virus kuning sehingga pertumbuhan tanaman tetap optimal, walaupun varietas ini belum memiliki ketahanan terhadap virus. Selain itu, ukuran buah Langgeng 58 tergolong besar dan seragam. Faktor ini sangat berpengaruh saat penjualan hasil panen. Menurut pengalamannya, cabai berukuran besar memiliki daya tarik tersendiri di pasar sehingga harga jualnya bisa lebih tinggi dibandingkan varietas lain. Bahkan selisih harga dapat mencapai Rp5.000 per kilogram. Tentu saja perbedaan tersebut akan sangat terasa ketika panen dilakukan dalam jumlah besar.
Keunggulan berikutnya adalah kulit buah yang tebal. Karakter ini membuat buah lebih tahan saat proses panen, pengangkutan, maupun penyimpanan sementara sebelum dijual. Risiko buah rusak atau busuk menjadi lebih rendah sehingga hasil panen yang layak jual lebih banyak. Yang tidak kalah penting, A Rezan menilai Langgeng 58 memiliki perawatan yang relatif mudah. Pertumbuhan tanaman cukup kuat, respons terhadap pemupukan baik, dan tidak membutuhkan perlakuan khusus yang rumit. Bagi petani yang menginginkan produktivitas tinggi dengan manajemen budidaya yang lebih sederhana, varietas ini menjadi salah satu pilihan yang layak dipertimbangkan.
Inilah Penyebab Cabai Tetap Produktif, Bunga dan Buah Tidak Pernah Putus
Setelah mengetahui keunggulan varietas Langgeng 58, pertanyaan berikutnya tentu bagaimana cara A Rezan merawat tanaman hingga mampu menghasilkan panen yang terus berjalan. Menariknya, teknik budidaya yang diterapkan tidak terlalu rumit. Menurut A Rezan, lahan yang digunakan saat ini merupakan lahan bekas tanaman kembang kol yang menggunakan pupuk dasar berupa 2 sak Phonska, 1 sak Fertiphos, serta sekitar 50 karung pupuk kandang ayam.
Meski tergolong lahan tanam berulang, pertumbuhan tanaman tetap sangat baik. Salah satu kuncinya adalah pemupukan yang dilakukan secara efisien dan tepat sasaran. Selama masa pertumbuhan, A Rezan hanya melakukan satu kali pengocoran pada umur sekitar 45 hari setelah tanam menggunakan campuran KNO sebanyak 2 kilogram dan MKP sebanyak 1 kilogram yang dilarutkan ke dalam 200 liter air. Menurutnya, aplikasi ini membantu memperkuat pertumbuhan tanaman sekaligus mendukung pembentukan bunga dan buah. Untuk pupuk susulan, ia hanya memberikan satu kali aplikasi menggunakan kombinasi NPK Grower, Isharu, dan KCl. Meskipun sederhana, kombinasi tersebut dinilai cukup untuk menjaga kebutuhan unsur hara tanaman selama masa produksi.
Pada fase pembuahan, A Rezan mengandalkan aplikasi KALINET dengan dosis 1 liter untuk 400 liter air. Penyemprotan dilakukan setiap 20 hari sekali. Menurut pengalamannya, Kalinet membantu merangsang pembentukan bunga agar tanaman tidak mudah berhenti berbunga. Selain itu, buah yang dihasilkan terlihat lebih mengilap, kualitasnya lebih baik, dan memiliki daya simpan yang lebih lama. Bahkan ketika buah sudah berwarna merah selama sekitar 10 hari di pohon, kondisinya masih tetap padat dan tidak cepat lembek.
Sementara untuk perlindungan tanaman, A Rezan rutin memasukkan Tridium sebagai langkah antisipasi terhadap serangan antraknosa atau patek yang sering menjadi penyebab kerugian besar pada budidaya cabai. Sedangkan untuk mencegah serangan lalat buah, ia menerapkan cara yang cukup sederhana dan murah, yaitu memanfaatkan kamper atau kapur barus yang ditempatkan di area pertanaman. Menurutnya, metode ini cukup membantu mengurangi gangguan lalat buah selama masa produksi. Dengan pola pemupukan yang sederhana, pengendalian penyakit yang teratur, serta pemanfaatan lahan yang efisien, A Rezan membuktikan bahwa produktivitas tinggi tidak selalu harus diiringi dengan biaya perawatan yang besar. Justru pengelolaan yang tepat dan konsisten menjadi faktor utama yang membuat tanaman tetap sehat dan terus berproduksi hingga berkali-kali petikan.
Cari
KATEGORI : |
|---|
| Berita Inspirasi |
| Solusi Masalah |
| Kiat Pertanian |
| Pengetahuan |
Rekomendasi Produk : |
|---|
| KALINET |
| LANGGENG 58 |
Tags : |
|---|
Rekomendasi Produk : |
|---|
| KALINET |
| LANGGENG 58 |