99% TANAMAN MELON & CABAI AMAN DARI KERITING DAN VIRUS KUNING!! CUKUP PAKAI KAIN HAIGRO, INSEKTISIDA JADI LEBIH IRIT
Karlina Indah / 22 Aug 2026
Musim kemarau seperti sekarang menjadi salah satu masa yang paling ditakuti petani. Bukan hanya karena panas yang menyengat dan tanah yang cepat kering, tetapi juga karena serangan hama seperti kutu yang sering menjadi awal munculnya masalah keriting hingga virus kuning pada tanaman. Daun mulai mengeriting, pertumbuhan terganggu, tanaman kerdil, bahkan kalau serangannya sudah berat, tanaman bisa tidak menghasilkan buah seperti yang diharapkan. Masalah seperti ini tentu bukan hal baru bagi petani cabai maupun melon. Apalagi ketika kondisi tanaman sedang bagus-bagusnya, tiba-tiba muncul daun keriting atau gejala virus. Rasanya seperti sudah merawat tanaman berbulan-bulan, tetapi hasilnya terancam hanya karena satu masalah. Namun, ternyata tidak semua tanaman harus mengalami nasib yang sama. Ada petani yang justru berhasil melewati kondisi kemarau ini dengan tanaman yang masih terlihat segar dan sehat. Salah satunya adalah Mas Gar Nugroho, petani asal Purbalingga. Tanaman melon miliknya kini sudah berumur 45 HST. Menariknya, selama ditanam belum terkena hujan sama sekali. Melon tersebut juga ditumpangsarikan dengan cabai, tetapi hingga saat ini tanaman masih tampak sehat dan tidak menunjukkan masalah keriting seperti yang banyak dikhawatirkan petani. Lantas, apa yang dilakukan Mas Gar Nugroho? Apakah ada cara khusus dalam menanam melon sehingga tanaman lebih kuat menghadapi kondisi kemarau? Dan yang tidak kalah penting, apa yang dilakukan sehingga tanaman aman dari kriting dan virus kuning? Jawabannya akan kita bahas satu per satu dalam artikel ini.
Semi Tlasah Bikin Tanaman Lebih Mudah Dirawat
Kalau mau tanaman tumbuh bagus, jangan hanya memikirkan pupuk dan obatnya. Tanaman juga butuh rumah yang nyaman. Artinya, sejak awal lahan harus dipersiapkan supaya akar bisa berkembang, tanaman tidak terlalu berdesakan, dan perawatannya tidak bikin tenaga terkuras. Di lahan Mas Gar Nugroho, melon ditanam menggunakan sistem semi tlasah. Sistem ini dipilih bukan tanpa alasan. Pertimbangannya sederhana: lebih mudah dirawat, tidak membutuhkan banyak tenaga kerja, tetapi tanaman tetap bisa menghasilkan buah dengan maksimal. Caranya, satu lajur digunakan untuk satu tanaman, kemudian dua bedengan dijadikan satu area tanam. Di bagian tengahnya terdapat bekas ajir dari pertanaman sebelumnya. Bekas ajir tersebut kemudian dimanfaatkan untuk membuat para-para sederhana, sehingga sulur dan buah melon tidak langsung menyentuh tanah. Jarak tanam yang digunakan sekitar 60 cm. Memang, dengan jarak seperti ini jumlah tanaman dalam satu lahan tidak sebanyak kalau ditanam lebih rapat. Tetapi menurut pengalaman di lapangan, mengejar populasi belum tentu menjadi pilihan terbaik. Dengan tanaman yang tidak terlalu berdesakan, perawatan lebih mudah dan tanaman bisa lebih leluasa tumbuh. Populasi mungkin tidak banyak, tetapi buah yang dihasilkan bisa lebih maksimal. Dalam sistem semi tlasah ini, tanaman diarahkan dengan mempertahankan 3 sulur. Tanaman kemudian dinaikkan sekitar 50 cm untuk menjadi tempat menggantungkan buah. Dengan cara ini, buah tidak langsung berada di atas tanah sehingga lebih mudah dirawat dan dipantau. Menariknya lagi, sistem semi tlasah ini memungkinkan tanaman dipanen berkali-kali. Dalam pengalaman Mas Gar, tanaman bisa menghasilkan hingga sekitar 3 kali panen. Jadi, bukan sekadar mengejar buah pertama, tetapi bagaimana tanaman tetap sehat dan mampu melanjutkan produksi.
Sebelum tanam pun lahan tidak dibiarkan begitu saja. Dasaran yang digunakan terdiri dari Petroganik, Fertiphos, dan kapur dolomit. Kemudian, sekitar satu minggu sebelum tanam, pembenah tanah mulai diberikan berupa ASAM HUMAT, silika karbon, dan TRICHODERMA. Masing-masing digunakan sebanyak 1 bungkus untuk 200 liter air. Saat hari tanam, MIKORIZA juga ikut diberikan. Jadi, sebelum tanaman masuk ke lahan, rumahnya sudah dipersiapkan terlebih dahulu. Karena tanaman yang sehat bukan hanya soal apa yang diberikan setelah tanam, tetapi juga seberapa nyaman tempat tanaman itu tumbuh sejak awal. Berikut kondisi tanaman milik Mas Gar Nugroho yang ditanam menggunakan system semi tlasah:
Kain Haigro, Benteng Pertama Tanaman dari Serangan Hama
Kalau bicara soal keriting dan virus kuning, petani biasanya langsung berpikir tentang insektisida. Padahal, sebelum tanaman terserang, ada satu hal yang lebih penting dilakukan, yaitu mencegah hama pembawa virus datang ke tanaman. Seperti yang dilakukan Mas Gar Nugroho. Sejak awal tanam, tanaman diberi perlindungan menggunakan kain Haigro. Bukan untuk selamanya, tetapi digunakan pada masa awal pertumbuhan ketika tanaman masih muda dan rentan terhadap serangan hama. Selama kurang lebih 20 hari pertama setelah tanam, tanaman disungkup menggunakan kain Haigro. Setelah tanaman cukup kuat, sungkup kemudian dibuka dan tanaman dibiarkan tumbuh seperti biasa. Berikut gambaran penggunaan kain haigro yang dilakukan oleh Mas Gar:
Lalu, apa yang dirasakan dari cara sederhana ini? Menurut pengalaman Mas Gar, salah satu manfaat yang paling terasa adalah tanaman jauh lebih aman dari keriting. Ulat juga hampir tidak ditemukan selama tanaman masih menggunakan sungkup. Artinya, hama yang biasanya datang menyerang tanaman muda bisa ditekan sejak awal. Dari sisi biaya, penggunaan kain haigro juga dianggap cukup menguntungkan. Petani tidak harus terus-menerus mengandalkan insektisida untuk mengejar hama yang datang. Penggunaan insektisida bisa jauh lebih irit, karena sejak awal populasi hama sudah ditekan. Yang menarik, kain haigro ini bukan hanya digunakan sekali. Menurut Mas Gar, sekali membeli bisa digunakan sampai dua kali pertanaman, sehingga secara hitungan biaya masih cukup masuk akal untuk diterapkan. Bahkan dari hasil pertanaman yang dilakukan, Mas Gar menyebut perlindungan menggunakan kain haigro ini mampu membuat tanaman 99% aman dari gangguan yang dikhawatirkan, terutama pada fase awal pertumbuhan. Selain menjadi penghalang hama, kain haigro juga membantu menjaga kelembapan di sekitar tanaman. Jadi, tanaman tidak hanya terlindungi dari serangan hama, tetapi kondisi awal pertumbuhannya juga lebih nyaman. Dari pengalaman ini kita bisa melihat satu hal penting, menyelamatkan tanaman dari keriting dan virus tidak selalu harus dimulai dengan menyemprot obat. Mencegah hama datang sejak awal justru bisa menjadi langkah yang lebih mudah, hemat tenaga, dan hemat biaya.
Cari
KATEGORI : |
|---|
| Berita Inspirasi |
| Solusi Masalah |
| Kiat Pertanian |
| Pengetahuan |
Rekomendasi Produk : |
|---|
| BIOSIGMA PLUS |
| MICOBIO |
| POWERSOIL |
Tags : |
|---|
Rekomendasi Produk : |
|---|
| BIOSIGMA PLUS |
| MICOBIO |
| POWERSOIL |