Artikel

DAUN CABAI MENGERITING DAN PUCUK GOSONG? JANGAN SALAH SEMPROT, CEK 5 TANDA SERANGAN THRIPS INI!

DAUN CABAI MENGERITING DAN PUCUK GOSONG? JANGAN SALAH SEMPROT, CEK 5 TANDA SERANGAN THRIPS INI!


Karlina Indah / 23 Sep 2026

Sobat Mitra Bertani, pernahkah melihat tanaman cabai yang awalnya tumbuh normal, tetapi tiba-tiba pucuknya berubah? Daun muda mulai mengeriting, permukaan daun terlihat tidak normal, pucuk seperti gosong, lalu pertumbuhan tanaman seakan berhenti. Melihat kondisi seperti ini, langkah yang sering dilakukan adalah mengambil pestisida dan langsung melakukan penyemprotan. Padahal, tunggu dulu! Daun cabai yang mengeriting dan pucuk yang rusak belum tentu disebabkan oleh satu masalah yang sama. Salah mengenali penyebab justru bisa membuat penyemprotan berkali-kali tetapi hasilnya tidak sesuai harapan. Salah satu penyebab yang perlu dicurigai, terutama ketika kondisi cuaca panas dan kering, adalah serangan thrips.

Thrips merupakan salah satu hama penting pada tanaman cabai. Ukurannya sangat kecil sehingga keberadaannya sering tidak disadari sampai kerusakan mulai terlihat. Hama ini menyerang bagian tanaman yang masih muda dengan cara mengisap dan merusak jaringan tanaman. Akibatnya, pertumbuhan pucuk dapat terganggu dan daun muda mengalami perubahan bentuk. Inilah yang sering membuat petani mengatakan, Cabainya keriting, pucuknya rusak. Masalahnya, gejala tersebut juga dapat menyerupai gangguan lain. Karena itu, sebelum buru-buru menyemprot, ada baiknya kita mengenali tanda atau gejalanya terlebih dahulu.

5 TANDA SERANGAN THRIPS

1. Warna keperakan pada permukaan daun. Daun yang terserang thrips dapat menunjukkan bekas luka berupa warna keperakan atau seperti goresan halus. Jika diperhatikan lebih dekat, permukaan daun tidak lagi terlihat sehat dan mulus. Kerusakan ini terjadi karena aktivitas thrips pada jaringan tanaman. Pada tanaman cabai yang masih muda, kerusakan tersebut sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman karena bagian pucuk merupakan pusat pertumbuhan tanaman.

2. Daun muda mulai mengeriting atau keriput. Daun yang seharusnya berkembang melebar justru tumbuh tidak normal. Bagian tepi atau keseluruhan daun dapat terlihat menggulung dan bentuknya menjadi tidak beraturan. Kondisi seperti ini sering membuat petani mengira tanaman kekurangan unsur tertentu. Padahal, jika penyebabnya adalah hama, menambah pupuk saja tidak akan menyelesaikan sumber masalah. Inilah alasan mengapa mengenali gejala sebelum menentukan tindakan sangat penting.

3. Serangan thrips dapat membuat pucuk menggulung, pertumbuhan tunas terganggu, bahkan bagian tanaman yang terserang berat mengalami kerusakan. Jika kondisi ini terus berlanjut, tanaman terlihat seperti berhenti tumbuh. Pucuk yang rusak kemudian sering disebut petani sebagai pucuk gosong karena warnanya berubah dan jaringan mudanya tidak berkembang dengan baik. Namun, istilah “gosong” tidak otomatis berarti thrips. Pucuk dapat rusak karena beberapa faktor lain, termasuk tungau, maupun kerusakan akibat aplikasi pestisida yang terlalu keras. Karena itu, gejala harus dilihat secara keseluruhan.

4. Daun menjadi lebih kecil dan pertumbuhan tanaman melambat. Tanaman cabai yang terserang berat tidak hanya mengalami perubahan bentuk daun, tetapi juga kehilangan kemampuan untuk membentuk pertumbuhan baru secara normal. Jika serangan terjadi sejak tanaman masih muda, dampaknya dapat lebih terasa karena tanaman belum memiliki tajuk yang kuat. Pucuk yang terus mengalami kerusakan akan membuat perkembangan tanaman tertinggal dibandingkan tanaman yang sehat.

5. Tanda kelima adalah kita dapat menemukan hama atau tanda keberadaannya ketika melakukan pemeriksaan langsung. Karena ukurannya sangat kecil, jangan hanya mengandalkan pengamatan dari jauh. Periksa bagian pucuk, daun muda, dan bagian bawah daun. Tanaman sebaiknya diamati secara rutin, terutama ketika mulai muncul perubahan pada pertumbuhan pucuk. Semakin cepat keberadaan hama diketahui, semakin cepat pula tindakan pengendalian dapat ditentukan. Hrips biasa bersembunyi di bagian bunga tanaman cabai, berikt contohnya:

Lalu, mengapa thrips perlu diwaspadai ketika cuaca panas dan kering? Kondisi lingkungan sangat berpengaruh terhadap perkembangan berbagai jenis hama. Pada periode panas dan kering, tanaman cabai juga mengalami tekanan karena ketersediaan air dan kondisi mikroklimat berubah. Pada situasi seperti ini, petani perlu meningkatkan pengamatan terhadap tanaman, bukan justru menunggu sampai kerusakan terlihat parah.  Namun, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan. Daun cabai keriting tidak selalu berarti thrips. Tungau juga dapat menyebabkan perubahan bentuk daun dan pucuk. Kutu kebul dan kutu daun juga perlu diperhatikan karena selain merusak tanaman secara langsung, beberapa serangga pengisap juga berhubungan dengan penyebaran penyakit pada tanaman. Bahkan jika pucuk terlihat gosong setelah dilakukan penyemprotan, kerusakan tersebut bisa saja berkaitan dengan aplikasi pestisida yang terlalu pekat atau kondisi tanaman yang sedang stres. Jadi, jangan hanya melihat satu gejala lalu langsung mengambil kesimpulan.

Lantas apa yang harus dilakukan ketika menemukan dugaan serangan thrips? Mulailah dari pengamatan. Periksa pucuk dan daun muda secara rutin, lihat apakah terdapat bekas keperakan, perubahan bentuk daun, pucuk menggulung, atau keberadaan hama. Setelah itu lakukan sanitasi dengan menjaga kebersihan lahan dan mengurangi bagian tanaman yang sudah rusak berat bila memang diperlukan. Penggunaan perangkap juga dapat membantu dalam monitoring. Untuk pengendalian, gunakan produk yang terdaftar dan sesuai sasaran, serta ikuti label mengenai dosis, konsentrasi, interval, dan cara aplikasinya. Rotasi kelompok bahan aktif juga perlu diperhatikan agar risiko terjadinya resistensi dapat ditekan. Menghadapi thrips bukan hanya soal mencari obat paling ampuh. Kunci pertama justru berada pada kemampuan kita membaca tanaman. Daun mengeriting adalah tanda bahwa tanaman sedang mengalami masalah, tetapi tugas kita adalah mencari tahu apa penyebabnya. Jangan sampai tanaman sudah rusak, pestisida sudah berkali-kali disemprotkan, tetapi penyebab sebenarnya belum ditemukan. Karena itu, mulai sekarang biasakan melakukan pemeriksaan tanaman secara rutin. Terlebih ketika kondisi cuaca mendukung perkembangan hama, pengamatan menjadi bagian penting dari budidaya cabai. Ingat, jangan menunggu cabai rusak baru mencari penyebabnya. Kenali gejalanya, pastikan hamanya, kemudian tentukan pengendaliannya. Dengan begitu, kita tidak hanya mengejar hama setelah menyerang, tetapi juga membangun tanaman cabai yang lebih siap tumbuh dan berproduksi sampai panen.


Rekomendasi Produk :
BIOSIGMA PLUS