TANPA PUPUK DASAR! CARA TANAM CABAI MERAH KERITING HEMAT BIAYA, BALIK MODAL DI PETIKAN KE-6
Karlina Indah / 25 Jun 2026
Siapa bilang budidaya cabai merah keriting harus mengeluarkan biaya besar untuk pupuk dan perawatan? Pengalaman berbeda justru dibuktikan oleh Pak Eko, petani dari Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal. Dengan konsep budidaya yang hemat dan pemupukan yang sangat efisien, beliau berhasil menekan biaya produksi hingga seminimal mungkin. Bahkan, menurut pengakuannya, modal usaha sudah kembali saat memasuki petikan ke-6. Perjalanan Pak Eko dalam budidaya cabai tidak dimulai dari lahan luas. Sebelumnya, beliau menanam cabai rawit menggunakan polybag. Cara tersebut dipilih sebagai sarana belajar sebelum terjun langsung ke budidaya skala lahan.
Selama lebih dari satu tahun, berbagai teknik budidaya dipelajari dan diuji di polybag, mulai dari pemupukan, penyiraman, hingga pengendalian hama dan penyakit. Setelah merasa cukup percaya diri, Pak Eko memutuskan mencoba tantangan baru dengan menanam cabai merah keriting di bedengan. Alasannya sederhana, yaitu ingin belajar hal baru sekaligus melihat peluang pasar yang menjanjikan. Pilihannya jatuh pada varietas SERAYU yang dikenal memiliki kualitas buah bagus, warna menarik, dan sangat disukai pasar. Menariknya lagi, hasil panen cabai merah keriting varietas Serayu milik Pak Eko sangat mudah dipasarkan. Hasil panen dijual langsung kepada pengguna sehingga harga lebih stabil dan menguntungkan. Bahkan pada beberapa periode panen, pembeli harus masuk daftar tunggu (waiting list) karena permintaan lebih tinggi dibandingkan ketersediaan hasil panen. Lalu, bagaimana sebenarnya cara Pak Eko menekan biaya budidaya hingga bisa balik modal hanya dalam enam kali petikan? Apa saja strategi yang diterapkan? Mari kita kupas satu per satu rahasia budidaya cabai merah keriting hemat biaya ala Pak Eko yang bisa menjadi inspirasi bagi petani lainnya.
Tanpa Pupuk Dasar, Bedengan Langsung Tutup Mulsa!!
Kalau mendengar budidaya cabai merah keriting, biasanya yang terbayang adalah biaya pupuk dasar yang besar, mulai dari pupuk kandang, dolomit, hingga berbagai pupuk kimia. Namun cara yang dilakukan Pak Eko justru berbeda. Setelah lahan dibuat bedengan, beliau langsung menutupnya menggunakan mulsa tanpa menambahkan pupuk dasar organik maupun pupuk kimia. Bagi sebagian petani, cara ini mungkin terdengar nekat. Namun tentu ada alasan yang mendasarinya. Menurut Pak Eko, beliau masih khawatir menggunakan pupuk kandang yang belum benar-benar matang. Jika pupuk belum terfermentasi sempurna, justru bisa menimbulkan masalah di kemudian hari, mulai dari akar terganggu, munculnya penyakit, hingga pertumbuhan tanaman yang kurang maksimal. Sementara itu, untuk pupuk kimia, beliau memiliki pengalaman kurang menyenangkan. Pada musim hujan sebelumnya, penggunaan pupuk kimia cukup tinggi membuat tanaman lebih mudah mengalami kelayuan. Pengalaman tersebut membuat beliau lebih berhati-hati dalam menentukan strategi pemupukan.
Meski tanpa pupuk dasar, bukan berarti lahan dibiarkan begitu saja. Sebelum tanam, Pak Eko melakukan pengocoran menggunakan Trichoderma merk dagang BIOSIGMA PLUS dan asam humat merk dagang POWERSOIL. Dosis yang digunakan sangat rendah, yaitu masing-masing 3 sendok makan untuk 20 liter air. Larutan tersebut kemudian dikocorkan sebanyak 50 ml per lubang tanam. Tujuan penggunaan Trichoderma adalah membantu memperbanyak mikroorganisme baik di dalam tanah sekaligus menekan perkembangan jamur penyebab penyakit. Sedangkan asam humat berfungsi memperbaiki kondisi tanah sehingga akar tanaman lebih mudah berkembang dan menyerap unsur hara yang tersedia. Menurut Pak Eko, kunci utama budidaya bukan hanya memberi makan tanaman, tetapi terlebih dahulu memperbaiki rumahnya. Jika tanah sehat, akar sehat. Jika akar sehat, tanaman akan lebih mudah tumbuh kuat dan produktif.
Cuma Asam Humat dan Kalsium, Kok Tanaman Bisa Subur?
Pada fase vegetatif, pemupukan yang dilakukan ternyata sangat sederhana. Pak Eko hanya mengandalkan kombinasi asam humat merk Powersoil dan kalsium asam humat merk dagang CALHA. Masing-masing diberikan dengan dosis 3 sendok makan per 20 liter air. Pengocoran dilakukan rutin seminggu sekali dengan volume sekitar 50 ml per tanaman. Seiring bertambahnya umur tanaman, volume kocoran ditingkatkan sesuai kebutuhan. Banyak petani mungkin bertanya, "Kalau cuma asam humat dan kalsium, nutrisi untuk tumbuh tanaman apakah tercukupi?" Menurut Pak Eko, asam humat membantu memperbaiki struktur tanah sekaligus mengurai residu pupuk kimia yang masih tersisa dari pertanaman sebelumnya. Dengan kondisi tanah yang semakin sehat, unsur hara yang tersimpan di dalam tanah menjadi lebih mudah tersedia dan dimanfaatkan tanaman.
Saat tanaman mulai memasuki fase generatif atau pembungaan, kebutuhan nutrisi tentu meningkat. Pada fase inilah Pak Eko mulai menambahkan MKP dengan dosis 2 sendok makan per 20 liter air. Penambahan MKP bertujuan membantu pembentukan bunga, meningkatkan keberhasilan pembuahan, sekaligus mendukung perkembangan buah agar lebih maksimal. Kombinasi asam humat, kalsium, dan MKP menghasilkan buah cabai yang panjang, besar, keras, berisi, dan memiliki kualitas yang seragam. Tidak hanya kuantitas panen yang terjaga, kualitas buah pun sangat disukai pasar.
Rahasia Daun Tetap Hijau dan Kualitas Buah Memukau
Selain pengocoran, Pak Eko juga rutin melakukan penyemprotan daun. Pada fase vegetatif, beliau menggunakan MORDEN FOL interval seminggu dua kali. Kemudian saat tanaman memasuki fase generatif, penyemprotan diganti menggunakan KALINET dengan frekuensi yang sama, yaitu seminggu dua kali. Penyemprotan ini membantu menjaga pertumbuhan tanaman tetap stabil, mendukung pembentukan bunga, serta mempertahankan kualitas buah. Untuk pengendalian hama, Pak Eko hanya mengandalkan Abamektin dan Curacron yang digunakan sesuai kebutuhan di lapangan. Sedangkan untuk penyakit jamur, beliau melakukan rotasi fungisida menggunakan Klorotalonil, Mankozeb, Antracol, Tandem, dan Previcur. Semua digunakan secara bergantian agar efektivitasnya tetap terjaga dan risiko resistensi dapat ditekan. Yang paling penting, menurut Pak Eko, setiap penyemprotan selalu ditambahkan KOVER WP sebagai perekat. Bahan ini tidak pernah ditinggalkan karena membantu larutan menempel lebih baik pada permukaan daun sehingga kinerja pestisida maupun nutrisi menjadi lebih maksimal.
Dari pengalaman inilah Pak Eko semakin yakin bahwa budidaya cabai tidak selalu harus mahal. Selama tanah dibenahi dengan baik, nutrisi diberikan sesuai kebutuhan tanaman, dan perawatan dilakukan secara disiplin, hasil panen tetap bisa maksimal meski biaya produksi jauh lebih hemat. Berikut ini lampiran foto tanaman hasil perawatan Pak Eko sebagai gambaran langsung keberhasilan budidaya cabai merah keriting yang hemat biaya namun tetap menghasilkan panen berkualitas: