Artikel

CARA MENGATASI THRIPS!! CUKUP SEMPROT 2 BAHAN INI, DAUN KERITING PULIH SAMPAI PANEN!

CARA MENGATASI THRIPS!! CUKUP SEMPROT 2 BAHAN INI, DAUN KERITING PULIH SAMPAI PANEN!


Karlina Indah / 02 Sep 2026

Musim kemarau bagi sebagian petani bukan berarti pekerjaan di lahan menjadi lebih ringan. Justru saat cuaca panas dan kering seperti sekarang, ada satu masalah yang hampir selalu dikeluhkan yaitu serangan thrips. Tanaman yang seharusnya tumbuh subur malah terlihat kerdil dan tidak berkembang dengan baik. Sekilas, gejala seperti ini memang bisa membuat petani bingung. Apakah tanaman kekurangan nutrisi? Terkena virus? Atau memang diserang hama? Salah satu ciri yang perlu diperhatikan adalah perubahan pada daun muda dan pucuk tanaman. Daun dapat terlihat mengeriting, menggulung ke atas, permukaannya tidak normal, dan warna daun pun bisa berubah. Jika diperiksa lebih teliti, sering kali terdapat hama berukuran sangat kecil yang bersembunyi di bagian tanaman yang masih muda. Inilah salah satu tanda yang patut dicurigai sebagai serangan thrips.

Masalahnya tidak berhenti di situ. Banyak petani mengaku sudah melakukan penyemprotan berkali-kali. Ganti merek insektisida, dosis dinaikkan, bahkan interval penyemprotan dipercepat, tetapi thrips tetap muncul dan tanaman terus rusak. Kalau kondisi seperti ini terus terjadi, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa obatnya tidak ampuh. Bisa jadi, thrips di lahan sudah mengalami resistensi terhadap insektisida tertentu. Lalu, mengapa thrips bisa menjadi resisten? Apakah semakin tinggi dosis berarti semakin efektif? Apakah boleh terus menggunakan bahan aktif yang sama? Dan yang tidak kalah penting, bagaimana cara mengendalikan thrips tanpa membuat masalah semakin parah serta bagaimana memulihkan tanaman yang sudah telanjur rusak? Dalam artikel ini, kita akan membahasnya dari memahami penyebab resistensi, strategi pengendalian thrips yang lebih tepat, hingga langkah pemulihan tanaman setelah serangan. Jadi, sebelum kembali melakukan penyemprotan, pastikan petani memahami dulu apa yang sebenarnya sedang terjadi di lahan.

Thrips Makin Kebal? Bisa Jadi Cara Semprotnya yang Membuat Hama Makin Kuat!

Salah satu alasan mengapa thrips terasa semakin sulit dikendalikan adalah karena hama ini dapat mengalami resistensi terhadap insektisida. Sederhananya, thrips yang awalnya mudah mati setelah disemprot, lama-kelamaan bisa menjadi lebih tahan apabila terus-menerus terkena bahan aktif atau kelompok insektisida yang sama. Masalahnya, ketika melihat thrips masih hidup setelah penyemprotan, banyak petani justru melakukan hal yang sama: dosis ditambah atau penyemprotan diulang menggunakan bahan aktif yang sama. Padahal, kebiasaan seperti ini justru dapat mempercepat terbentuknya populasi thrips yang lebih tahan. Karena itu, kunci pengendalian thrips bukan sekadar mencari insektisida yang paling manjur, tetapi bagaimana melakukan perolingan bahan aktif dengan benar.

Jika tanaman belum menunjukkan serangan berat, pengendalian dapat dilakukan sebagai langkah pencegahan, terutama ketika kondisi lahan mulai mendukung perkembangan thrips. Jangan terpaku pada satu bahan aktif saja. Petani dapat melakukan rotasi tiga bahan aktif, misalnya abamektin, imidakloprid, dan diafentiuron. Prinsipnya bukan mencampurkan ketiganya dalam satu tangki, tetapi menggunakannya secara bergantian pada aplikasi yang berbeda. Dengan begitu, thrips tidak terus-menerus mendapatkan tekanan dari bahan aktif yang sama. Lalu bagaimana jika thrips sudah menyerang dan populasinya cukup tinggi? Dalam kondisi seperti ini, prioritas pertama adalah menekan populasi hama terlebih dahulu. Petani dapat menggunakan bahan aktif yang memiliki daya pengendalian lebih kuat, misalnya Piriproksifen, Nitenpyram, Isosikloseram, Spirotetramat  atau Acetamiprid, sesuai dosis dan ketentuan pada label produk. Setelah populasi thrips berhasil ditekan, aplikasi berikutnya tidak perlu terus menggunakan bahan aktif yang sama. Lakukan rotasi dengan bahan aktif dari kelompok kerja yang berbeda. Jadi, jangan berpikir bahwa semakin sering menggunakan satu insektisida, semakin cepat thrips habis. Justru yang perlu diperbaiki adalah strategi penggunaannya.

Satu hal lagi yang sering dianggap sepele adalah waktu dan cara aplikasi. Untuk pengendalian thrips, penyemprotan sebaiknya dilakukan pada sore hari, ketika kondisi lebih sesuai untuk aplikasi dan aktivitas thrips dapat lebih diperhatikan. Untuk aplikasi insektisida, sebaiknya dilakukan secara tunggal, bukan asal mencampur banyak produk sekaligus. Selain memudahkan evaluasi efektivitas masing-masing bahan aktif, cara ini juga membantu petani mengetahui apakah bahan aktif yang digunakan memang masih bekerja terhadap populasi thrips di lahannya. Intinya, jangan hanya ganti merek insektisida, namun rotasikan bahan aktifnya. Karena yang perlu dihindari bukan sekadar penggunaan produk yang sama, tetapi penggunaan kelompok bahan aktif dengan cara kerja yang sama secara terus-menerus.

Setelah Hamanya Mati, Giliran Tanamannya yang Harus Dipulihkan

 

Ini salah satu keluhan yang sering muncul setelah serangan thrips berhasil dikendalikan. Hama sudah tidak kelihatan, tapi kok daun masih keriting? Petani perlu memahami bahwa tanaman tidak bisa langsung kembali normal setelah hamanya mati. Daun yang sudah mengalami kerusakan akibat hisapan thrips membutuhkan waktu untuk pulih. Apalagi jika serangannya terjadi pada pucuk dan daun muda, pertumbuhan tanaman bisa ikut terganggu. Karena itu, setelah populasi thrips berhasil ditekan, pekerjaan belum selesai. Tanaman perlu dibantu untuk memulihkan pertumbuhan barunya.

Setelah serangan thrips berhasil ditekan, Pada semprotan berikutnya, Sobat Mitra Bertani bisa menambahkan nutrisi seperti VITARON SL. Produk ini merupakan pupuk mikro yang dapat membantu memenuhi kebutuhan unsur mikro tanaman sekaligus berperan sebagai pembenah sel, sehingga tanaman mendapatkan dukungan nutrisi untuk membentuk pertumbuhan baru yang lebih baik. Mengapa unsur mikro penting? Karena setelah mengalami serangan hama, tanaman tidak hanya membutuhkan unsur makro seperti nitrogen, fosfor, dan kalium. Tanaman juga membutuhkan unsur mikro untuk mendukung berbagai proses fisiologisnya. Dengan kondisi nutrisi yang lebih terpenuhi, tanaman diharapkan lebih cepat membentuk pucuk dan daun baru yang sehat. Kemudian pada aplikasi berikutnya, petani dapat menambahkan asam amino seperti PREMINO. Asam amino dapat membantu tanaman menghadapi kondisi stres dan mendukung proses pemulihan setelah mengalami tekanan akibat serangan hama. Bahkan, di lapangan ada petani yang memilih menggunakan Vitaron SL bersama asam amino dalam satu aplikasi pemulihan. Kombinasi ini digunakan untuk memberikan dukungan nutrisi mikro sekaligus membantu tanaman melewati masa stres, sehingga proses pemulihan tanaman yang keriting dapat berlangsung lebih cepat. Kombinasi kedua produk ini juga terbukti ampuh, banyak testimoni dari petani yang berhasil memulihkan serangan thrips menggunakan car aini. Untuk Sobat Mitra Bertani yang sedang mengalami masalah ini jangan lupa mencoba, dan semoga berhasil !!


Rekomendasi Produk :
VITARON
PREMINO