CARA OLAH LAHAN SIAP TEMPUR DI MUSIM HUJAN!! TANAMAN AMAN DARI JAMUR
Karlina Indah / 09 Sep 2026
Masih musim kemarau, tapi sudah harus memikirkan musim hujan? Justru sekarang waktunya! Bagi sebagian petani, musim hujan baru dipikirkan ketika hujan sudah mulai turun. Padahal, kalau tanam dilakukan sekarang, bisa jadi masa pertumbuhan hingga panen nanti justru bertepatan dengan musim penghujan. Masalahnya, hampir setiap tahun kendalanya sering sama yaitu tanaman mudah terserang penyakit, terutama penyakit yang disebabkan jamur seperti layu atau busuk batang. Lalu, bagaimana cara menyiapkan lahan agar tanaman lebih siap menghadapi musim hujan? Kali ini kita belajar dari Mas Minto, petani dari Jogja, yang sedang mempersiapkan lahannya untuk menghadapi musim penghujan. Menurut Mas Minto, sebelum sibuk memikirkan fungisida atau bagaimana mengatasi penyakit saat musim hujan, ada satu hal yang justru harus diperhatikan terlebih dahulu yaitu tanahnya. Kenapa? Karena ketika musim hujan datang, kondisi lahan akan jauh berbeda. Air lebih banyak, kelembapan meningkat, dan kalau kondisi tanah serta sisa bahan organik di dalamnya tidak dikelola dengan baik, lingkungan tersebut bisa menjadi tempat yang nyaman bagi berbagai sumber penyakit berkembang.
Lahan Mas Minto kali ini merupakan bekas tanaman cabai. Setelah tanaman sebelumnya selesai, mulsa dibuka. Kemudian dibuat parit di bagian tengah bedengan untuk tempat pupuk. Setelah itu, lahan kembali dipersiapkan dengan bahan organik dan pupuk. Mas Minto menggunakan pupuk kandang ayam pedaging, kemudian ditambahkan pupuk kimia dan decomposer. Mungkin muncul pertanyaan: “Lho, pupuk kandang dimasukkan ke lahan, bukankah pupuk kandang bisa menjadi sumber penyakit?” Jawaban Mas Minto sederhana. Yang penting bukan sekadar memasukkan pupuk kandang, tetapi bagaimana pupuk tersebut diolah terlebih dahulu. Di sinilah decomposer menjadi bagian penting dalam persiapan lahan Mas Minto. Tidak hanya itu, mikroorganisme yang terdapat dalam produk decomposer juga dapat memiliki fungsi lain, tergantung jenis mikroorganismenya. Misalnya membantu menambat nitrogen, melarutkan fosfat, dan mendukung proses penguraian bahan organik. Jadi, decomposer bukan sekadar obat supaya pupuk kandang cepat matang, tetapi bisa menjadi bagian dari pengelolaan tanah agar kondisi lahan lebih siap sebelum tanaman masuk.
CARA AKTIVASI DEKOMPOSER
Dalam persiapan lahan Mas Minto, decomposer menjadi salah satu bagian yang tidak boleh dilewatkan. Decomposer digunakan untuk membantu mempercepat proses penguraian dan pematangan pupuk kandang yang diberikan ke lahan. Memang, pupuk kandang sebenarnya bisa matang dengan sendirinya. Namun, proses alami tersebut membutuhkan waktu yang cukup lama. Sementara itu, petani sering kali harus segera memanfaatkan lahannya untuk musim tanam berikutnya. Karena itu, Mas Minto melakukan aktivasi decomposer terlebih dahulu sebelum diaplikasikan ke lahan. Produk yang digunakan adalah LS23. Caranya cukup sederhana. Sebanyak 1 liter LS23 dimasukkan ke dalam satu galon, kemudian ditambahkan Powersoil dan tetes tebu. Setelah semua bahan dimasukkan, larutan tersebut didiamkan selama kurang lebih 3 hari. Setelah proses tersebut selesai, larutan tidak langsung disiramkan dalam kondisi pekat. Larutan terlebih dahulu diencerkan, kemudian diaplikasikan dengan cara disiramkan ke bagian atas pupuk kandang yang sudah ditebarkan di lahan. Untuk luasan lahan Mas Minto, satu galon larutan digunakan untuk sekitar 1.000 m² lahan. Tujuannya adalah memberikan kondisi yang mendukung agar mikroorganisme di dalam decomposer dapat bekerja pada bahan organik yang ada di lahan. Jadi, penggunaan decomposer bukan sekadar disiram lalu selesai, tetapi perlu diperhatikan juga bagaimana bahan tersebut dipersiapkan dan diaplikasikan.
LAHAN SUDAH SIAP, APAKAH BISA LANGSUNG DITANAMI?
Setelah lahan siap, apakah berarti lahan sudah bisa langsung ditanami? Belum tentu. Menurut Mas Minto, yang perlu diperhatikan bukan hanya apakah pupuk sudah diberikan, tetapi bagaimana kondisi bahan organik di dalam tanah setelah pengolahan. Apalagi lahan tersebut akan digunakan untuk menghadapi musim hujan, Menariknya, Mas Minto tidak langsung menanam cabai di lahan tersebut. Kali ini beliau memilih timun terlebih dahulu. Rencananya, timun akan ditanam sebanyak dua kali, kemudian baru dilanjutkan dengan tanaman cabai.
Kenapa timun? Menurut pengalaman Mas Minto, timun termasuk tanaman yang cukup kuat terhadap kondisi bahan organik yang masih dalam proses penguraian atau belum sepenuhnya matang. Dengan begitu, lahan yang baru saja mendapatkan bahan organik masih bisa dimanfaatkan terlebih dahulu untuk tanaman timun, sementara proses penguraian bahan organik terus berjalan di dalam tanah. Sehingga lahan tidak nganggur, tetap menghasilkan.
Setelah kondisi lahan dipersiapkan, Mas Minto juga tidak melupakan bagian yang paling penting, yaitu lingkungan perakaran. Sebelum tanaman dimasukkan ke lubang tanam, mikoriza dan Trichoderma terlebih dahulu ditaburkan di area lubang tanam. Perlakuan ini tidak hanya dilakukan untuk cabai, tetapi juga diterapkan pada tanaman timun. Mikoriza dimanfaatkan untuk membantu tanaman dalam penyerapan unsur hara dan air melalui hubungan simbiosis dengan akar. Sementara itu, Trichoderma banyak dimanfaatkan dalam pengelolaan kesehatan perakaran dan lingkungan tanah. Dengan memberikan keduanya sejak awal, harapannya tanaman tidak hanya dipersiapkan untuk tumbuh, tetapi juga memiliki lingkungan perakaran yang lebih mendukung sejak awal pertumbuhan.
Dari cara Mas Minto mempersiapkan lahannya, kita bisa mengambil satu pelajaran sederhana menghadapi musim hujan tidak dimulai saat hujan sudah turun. Persiapannya justru dilakukan ketika cuaca masih kering seperti sekarang. Mulai dari membersihkan sisa tanaman sebelumnya, memperhatikan drainase, mengolah pupuk kandang, mengaktifkan decomposer, hingga mempersiapkan lingkungan perakaran dengan mikoriza dan Trichoderma. Semua dilakukan sebelum tanaman masuk ke lahan. Sebab ketika musim hujan sudah datang, petani tidak lagi punya banyak waktu untuk memperbaiki kondisi lahan dari awal. Jadi, sebelum tanaman masuk, pastikan lahannya sudah benar-benar siap tempur. Jangan hanya menyiapkan tanamannya, tetapi siapkan juga tanahnya. Dengan begitu, ketika musim hujan tiba, tanaman tidak hanya mengandalkan keberuntungan, tetapi sudah dibekali dengan persiapan sejak awal.
Cari
KATEGORI : |
|---|
| Berita Inspirasi |
| Solusi Masalah |
| Kiat Pertanian |
| Pengetahuan |
Rekomendasi Produk : |
|---|
| POWERSOIL |
Tags : |
|---|
Rekomendasi Produk : |
|---|
| POWERSOIL |