Artikel

PUPUK KANDANG BISA JADI SUMBER PENYAKIT? INI 5 KESALAHAN YANG SERING DILAKUKAN PETANI DALAM APLIKASI PUPUK KANDANG

PUPUK KANDANG BISA JADI SUMBER PENYAKIT? INI 5 KESALAHAN YANG SERING DILAKUKAN PETANI DALAM APLIKASI PUPUK KANDANG


Karlina Indah / 05 Sep 2026

Pupuk kandang sudah lama dikenal sebagai salah satu bahan yang banyak dimanfaatkan petani untuk memperbaiki kondisi tanah. Harganya relatif murah, bahannya mudah ditemukan, dan manfaatnya pun cukup banyak. Setelah diaplikasikan, tanah yang sebelumnya keras dan kurang subur bisa menjadi lebih gembur sehingga akar tanaman lebih mudah berkembang. Bukan hanya itu, pupuk kandang juga dapat membantu memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Kandungan bahan organiknya dapat menjadi sumber makanan bagi mikroorganisme tanah. Unsur hara makro maupun mikro yang terkandung di dalamnya juga dapat membantu memenuhi kebutuhan tanaman. Namun, ada satu hal yang sering terlupakan. Pupuk kandang yang seharusnya membantu tanaman justru bisa menimbulkan masalah jika cara aplikasinya tidak tepat.

Pernahkah setelah pemberian pupuk kandang tanaman justru terlihat layu, pertumbuhannya terganggu, atau muncul masalah penyakit pada lahan? Jangan langsung menyalahkan tanamannya. Bisa jadi masalahnya berasal dari pupuk kandang yang digunakan atau cara pengaplikasiannya. Pupuk kandang bukan sekadar bahan yang tinggal ditebar di lahan. Ada proses yang perlu diperhatikan, mulai dari tingkat kematangan, dosis, cara aplikasi, hingga waktu pemberiannya. Jika salah, manfaat yang diharapkan bisa berubah menjadi kendala di kemudian hari. Sebaliknya, jika digunakan dengan benar, pupuk kandang dapat menjadi salah satu cara yang ekonomis untuk membantu menjaga kesuburan tanah dalam jangka panjang. Lantas, kesalahan apa saja yang sering dilakukan saat menggunakan pupuk kandang? Dan bagaimana cara mengatasinya? Dalam artikel ini, kita akan membahas 5 kesalahan aplikasi pupuk kandang yang sering terjadi di lahan, sekaligus solusi agar pupuk kandang benar-benar memberikan manfaat, bukan justru menjadi sumber masalah.

5 Kesalahan Aplikasi Pupuk Kandang yang Sering Dilakukan Petani

Pupuk kandang memang banyak manfaatnya untuk tanah. Namun, manfaat tersebut baru bisa dirasakan jika pupuk kandang diaplikasikan dengan cara yang tepat. Di lapangan, ada beberapa kesalahan yang masih sering dilakukan dan justru dapat menimbulkan masalah bagi tanaman.

1. Menggunakan Pupuk Kandang yang Masih Mentah. Kesalahan pertama adalah langsung menggunakan pupuk kandang yang belum matang. Pupuk kandang mentah masih mengalami proses penguraian atau dekomposisi. Dalam proses ini, dapat dihasilkan panas dan gas tertentu yang tidak disukai tanaman. Kondisi tersebut dapat mengganggu pertumbuhan akar. Selain itu, kondisi tanah juga bisa mengalami perubahan pH.

2. Memberikan Pupuk Kandang Terlalu Banyak. Karena dianggap bagus untuk tanah, bukan berarti pupuk kandang harus diberikan sebanyak-banyaknya. Tanaman tidak hanya membutuhkan bahan organik, tetapi juga membutuhkan air, udara, dan unsur hara dalam jumlah yang seimbang. Sebagai patokan, penggunaan pupuk kandang dapat diberikan sekitar 0,5–1 kg per tanaman, disesuaikan dengan kondisi lahan dan kebutuhan tanaman.

3. Hanya Menaburkan Pupuk Kandang di Atas Bedengan. Kesalahan berikutnya adalah pupuk kandang hanya ditaburkan tebal di atas bedengan, kemudian langsung ditutup tanah tanpa dicampurkan. Padahal, bahan organik memiliki kemampuan mengikat dan menahan air. Jika pupuk kandang menumpuk pada satu lapisan dan tidak tercampur dengan tanah, air bisa tertahan terlalu banyak di area tersebut. Ketika akar tanaman mencapai lapisan pupuk yang terlalu basah, kondisi ini dapat mengganggu akar bahkan meningkatkan risiko akar membusuk. Karena itu, pupuk kandang sebaiknya dicampurkan secara merata dengan tanah, bukan hanya ditumpuk pada satu lapisan.

4. Menutup Pupuk Kandang Terlalu Tipis. Setelah pupuk kandang diberikan, jangan dibiarkan terlalu dekat dengan permukaan tanah. Pupuk kandang perlu ditutup dengan tanah yang cukup agar nantinya tidak langsung bertemu dengan akar. Idealnya, pupuk kandang dapat ditutup dengan tanah sekitar 15–20 cm.

5. Tidak Memberikan Jeda Sebelum Tanam. Kesalahan terakhir adalah setelah pupuk kandang diberikan, lahan langsung digunakan untuk menanam. Padahal, setelah aplikasi, tanah membutuhkan waktu untuk beradaptasi dan proses penguraian perlu berlangsung terlebih dahulu. Berikan waktu pendiaman lahan sekitar 15–30 hari sebelum tanam. Dengan begitu, kondisi tanah menjadi lebih stabil dan risiko gangguan akibat pupuk kandang yang belum sepenuhnya terurai dapat dikurangi.

Solusi Praktis Pematangan Pupuk Kandang

Kalau pupuk kandang bisa memberikan banyak manfaat untuk tanah, tentu kita tidak ingin meninggalkannya hanya karena takut menimbulkan masalah. Justru sebaliknya, pupuk kandang merupakan salah satu penyumbang bahan organik terbesar dan relatif murah yang bisa dimanfaatkan petani. Kuncinya hanya satu: pastikan pupuk kandang sudah matang dan terdekomposisi dengan baik sebelum digunakan. Pupuk kandang yang sudah matang jauh lebih aman digunakan karena sebagian besar proses penguraian bahan organik sudah berlangsung. Panas dan gas yang muncul selama proses dekomposisi juga sudah berkurang, sehingga kondisi menjadi lebih bersahabat bagi akar tanaman.

Lalu, bagaimana kalau pupuk kandang yang tersedia masih belum matang? Tidak harus menunggu lama di tempat khusus. Pematangan pupuk kandang juga bisa dilakukan langsung di lahan. Caranya cukup praktis. Setelah pupuk kandang disebarkan pada lahan, gunakan decomposer untuk membantu mempercepat proses penguraian bahan organik. Salah satu decomposer yang bisa Sobat Mitra Bertani gunakan adalah LS-23, dengan 7 mikroba aktif yang membantu proses dekomposisi. Cara aplikasinya juga sederhana. Larutkan LS-23 sesuai dosis yang dianjurkan, kemudian larutan dapat langsung disemprotkan secara merata ke permukaan pupuk kandang hingga kondisinya basah dan lembap. Untuk membantu prosesnya, larutan juga bisa ditambahkan molase sebagai sumber makanan bagi mikroba. Namun, tanpa tambahan molase pun LS-23 tetap dapat digunakan, karena tidak perlu melalui proses aktivasi terlebih dahulu. Setelah disemprot, pupuk kandang jangan langsung digunakan untuk menanam. Berikan waktu agar mikroba bekerja dan proses penguraian berlangsung dengan baik. Selama proses tersebut, pastikan kelembapan tetap terjaga dan bahan organik tidak terlalu kering. Jadi, jangan buru-buru menganggap pupuk kandang sebagai sumber penyakit. Yang perlu diperbaiki bukan pupuk kandangnya, tetapi cara pengolahannya. Pastikan pupuk kandang matang, aplikasikan dengan tepat, dan beri waktu bagi mikroba untuk bekerja. Dengan begitu, bahan organik yang murah dan mudah diperoleh ini benar-benar bisa menjadi modal untuk membangun tanah yang lebih sehat.


Rekomendasi Produk :
BIOSIGMA PLUS