BUKAN CUMA HAMA, INI 5 MASALAH YANG BISA MENGHAMBAT TANAMAN CABAI DARI AWAL TANAM
Karlina Indah / 16 Aug 2026
Setiap musim tanam selalu membawa tantangan yang berbeda. Kondisi cuaca, kelembapan, suhu tanah, hingga tekanan hama dan penyakit dapat memengaruhi pertumbuhan tanaman sejak awal tanam sampai memasuki masa panen. Hal tersebut juga dirasakan di lahan Mitra Bertani dalam proses budidaya cabai yang dilakukan. Jika dilihat sekarang, tanaman cabai di lahan tersebut tumbuh cukup baik. Namun, kondisi itu tidak langsung didapatkan sejak awal. Ada berbagai kendala yang harus dihadapi dan dievaluasi selama proses budidaya. Salah satunya adalah banyaknya tanaman yang mati pada fase awal setelah pindah tanam.
Pada awal pertanaman, tim mitra bertani sempat menduga tanaman yang mati disebabkan oleh kualitas bibit atau proses pindah tanam. Namun, setelah dilakukan evaluasi, kondisi bibit dan proses penanaman ternyata sudah sesuai. Saat itu, mulsa dipasang setelah lahan didiamkan, sedangkan lubang tanam baru dibuat menjelang proses penanaman. Akibatnya, panas yang terperangkap di bawah mulsa belum memiliki cukup waktu untuk keluar. Suhu tanah di sekitar lubang tanam masih cukup tinggi ketika bibit mulai ditanam. Kondisi tersebut membuat sebagian bibit kesulitan beradaptasi. Sistem perakaran yang masih dalam tahap penyesuaian harus menghadapi lingkungan yang terlalu panas sehingga beberapa tanaman akhirnya mati. Di sisi lain, pertanaman juga sempat menghadapi serangan hama respo yang turut menambah tekanan pada tanaman muda. Karena tanaman sudah terlanjur ditanam, langkah penyelamatan dilakukan dengan memberikan perlindungan sederhana menggunakan bambu untuk membantu mengurangi paparan panas secara langsung. Tanaman yang sudah tidak dapat diselamatkan kemudian dilakukan penyulaman agar populasi tanaman tetap terjaga. Dari pengalaman tersebut, ada satu hal penting yang menjadi evaluasi untuk musim tanam berikutnya. Lubang tanam pada mulsa sebaiknya dibuat sekitar dua minggu sebelum penanaman. Jeda waktu tersebut memberikan kesempatan bagi panas yang terperangkap di bawah mulsa untuk keluar secara bertahap sehingga suhu tanah menjadi lebih stabil ketika bibit ditanam. Selain masalah tersebut, tentu juga ada masalah serangan hama dan penyakit. Berikut penjelasan lengkap beserta cara pengendalianya:
1. Bercak daun
Setelah berhasil melewati fase adaptasi awal, tantangan berikutnya muncul seiring kondisi cuaca. Pertanaman yang dilakukan sekitar bulan Februari berhadapan dengan curah hujan dan kelembapan yang cukup tinggi. Kondisi lingkungan yang lembap menjadi salah satu faktor yang mendukung perkembangan penyakit bercak daun. Gejala awal biasanya terlihat dari munculnya bercak pada beberapa daun. Langkah pertama yang dilakukan adalah sanitasi dengan merempel atau membuang daun yang telah menunjukkan gejala. Setelah sanitasi, pengendalian dilanjutkan dengan aplikasi fungisida secara bergantian atau rolling bahan aktif. Fungisida yang digunakan berbahan aktif tembaga yang dikombinasikan dengan KOVER WP, kemudian dilakukan rotasi dengan Previcur dan klorotalonil. Rotasi bahan aktif menjadi bagian penting dalam strategi pengendalian karena penggunaan bahan aktif yang sama secara terus-menerus dapat meningkatkan risiko patogen menjadi kurang peka. Namun, pengendalian tidak berhenti pada aplikasi fungisida. Kondisi tanaman dan tanah juga tetap diperhatikan. Aplikasi kalsium dilakukan secara berkala sebagai bagian dari upaya menjaga kondisi tanaman tetap kuat dan mendukung pembentukan jaringan yang lebih baik. Dengan demikian, pengendalian penyakit dilakukan secara menyeluruh, bukan hanya mengandalkan penyemprotan.
2. Layu dan Busuk Batang
Selain bercak daun, penyakit layu dan busuk batang juga menjadi salah satu kendala yang ditemukan selama budidaya. Untuk menghadapi masalah tersebut, pencegahan menjadi langkah utama. Salah satunya melalui aplikasi Trichoderma sebelum tanam. Trichoderma merupakan mikroorganisme yang dapat dimanfaatkan dalam pengelolaan kesehatan tanah dan membantu menekan perkembangan mikroorganisme patogen tertentu di sekitar perakaran. Namun, ketika tanaman sudah menunjukkan gejala busuk batang atau mulai mengalami kelayuan, tindakan tetap harus dilakukan. Bagian batang yang mengalami pembusukan dipotong. Setelah itu, area perakaran dikocor menggunakan fungisida sesuai kebutuhan pengendalian.
3. Ulat
Memasuki fase pembentukan buah, tekanan hama juga mulai meningkat. Salah satu hama yang ditemukan adalah ulat. Pengendalian dilakukan menggunakan insektisida dengan bahan aktif emamektin benzoat dan lufenuron. Keduanya memiliki mekanisme kerja yang berbeda sehingga penggunaannya dalam strategi pengendalian dapat membantu menghadapi serangan ulat sekaligus mendukung pengelolaan risiko resistensi. Selain pemilihan bahan aktif, waktu aplikasi juga perlu diperhatikan. Untuk emamektin benzoat, aplikasi pada sore hari menjadi pilihan karena paparan sinar matahari dan ultraviolet dalam waktu lama dapat mempercepat degradasi bahan aktif. Pada sore hingga malam hari, aktivitas makan ulat juga cenderung meningkat sehingga peluang hama terkena insektisida menjadi lebih besar.
4. Tungau
Ketika kondisi cuaca mulai panas dan kering, tantangan lain dapat muncul, salah satunya serangan tungau. Hama ini dapat menyebabkan daun mengalami keriting, mengecil, dan mengalami gangguan pertumbuhan. Untuk pengendalian tungau, digunakan akarisida berbahan aktif piridaben. Setelah populasi tungau berhasil dikendalikan, dilakukan Upaya pemulihan dengan aplikasi pupuk mikro, salah satunya Vitaron SL, untuk membantu memenuhi kebutuhan unsur mikro yang mendukung proses metabolisme dan pembentukan jaringan tanaman.
Dari perjalanan budidaya tersebut, terlihat bahwa keberhasilan pertanaman bukan hanya ditentukan oleh satu produk atau satu tindakan. Setiap masalah membutuhkan pengamatan, evaluasi, dan penanganan yang sesuai dengan penyebabnya. Mulai dari mengatur waktu pembuatan lubang tanam, melakukan sanitasi daun yang terserang penyakit, menerapkan rotasi bahan aktif pestisida, mencegah penyakit sejak sebelum tanam menggunakan mikroba baik, mengendalikan hama berdasarkan jenisnya, hingga membantu tanaman memulihkan diri setelah mengalami serangan hama. Bertani bukan tentang bagaimana membuat tanaman tidak pernah bermasalah, tetapi bagaimana mengenali masalah lebih cepat, mengambil tindakan yang tepat, dan terus melakukan evaluasi agar kesalahan yang sama tidak terulang pada musim tanam berikutnya.
Cari
KATEGORI : |
|---|
| Berita Inspirasi |
| Solusi Masalah |
| Kiat Pertanian |
| Pengetahuan |
Rekomendasi Produk : |
|---|
| BIOSIGMA PLUS |
| VITARON |
| KOVER WP |
| CAL-HA |
Tags : |
|---|
Rekomendasi Produk : |
|---|
| BIOSIGMA PLUS |
| VITARON |
| KOVER WP |
| CAL-HA |