Mengenal Penyakit Antraknosa atau Patek pada Cabai: Gejala, Penyebab, dan Dampaknya Bagi Petani
Karlina Indah / Sabtu,21 Februari 2026
Budidaya cabai merupakan salah satu sektor hortikultura yang memiliki nilai ekonomi tinggi, namun juga dikenal sangat rentan terhadap serangan penyakit. Banyak petani sudah melakukan pemupukan dan perawatan dengan baik, tetapi tetap mengalami kerugian akibat penyakit yang menyerang saat fase pembentukan hingga pemasakan buah. Salah satu penyakit yang paling sering muncul dan menimbulkan kerugian besar adalah antraknosa, yang di kalangan petani lebih dikenal dengan sebutan patek. Penyakit ini tidak hanya menurunkan kualitas hasil panen, tetapi juga berdampak langsung pada nilai jual. Oleh karena itu, memahami apa itu antraknosa, bagaimana gejalanya muncul, serta dampaknya menjadi langkah awal yang penting. Dengan mengenali penyakit ini secara tepat, petani dapat membedakannya dari serangan buah lainnya dan menentukan cara pengendalianya sejak dini.
Apa Itu Antraknosa?
Antraknosa adalah penyakit tanaman yang disebabkan oleh jamur dari genus Colletotrichum dan dikenal sebagai penyebab utama busuk buah pada cabai. Di tingkat petani, penyakit ini lebih populer dengan sebutan patek. Serangannya paling sering ditemukan pada buah, terutama saat memasuki fase pemasakan, meskipun pada kondisi tertentu dapat pula menyerang batang dan daun. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa antraknosa pada cabai lebih sering dan lebih parah menyerang pada fase generatif, khususnya saat buah memasuki tahap pemasakan. Infeksi sebenarnya dapat terjadi sejak buah masih hijau, namun patogen ini menunjukkan tingkat keparahan lebih tinggi pada buah yang telah memasuki fase matang dibandingkan buah hijau muda. Buah yang mulai berubah warna dari hijau ke oranye hingga merah memiliki jaringan yang lebih lunak dan kandungan nutrisi yang mendukung perkembangan jamur, sehingga gejala bercak cekung dan busuk berkembang lebih cepat. Beberapa studi juga melaporkan bahwa pada tahap warna oranye, intensitas serangan meningkat signifikan karena mekanisme ketahanan alami buah mulai menurun. Dengan demikian, fase perubahan warna, terutama saat buah tampak oranye merupakan periode paling rentan terhadap muncul dan berkembangnya antraknosa di lapangan.
Gejala awal antraknosa biasanya ditandai dengan munculnya bercak kecil berwarna cokelat atau kehitaman pada permukaan buah. Bercak ini kemudian berkembang menjadi lebih besar dan tampak cekung. Pada tahap lanjut, bagian yang terinfeksi terlihat seperti luka basah dan lunak, sering kali membentuk pola lingkaran konsentris menyerupai target. Dalam kondisi lembap, permukaan bercak dapat memunculkan massa spora berwarna kehitaman atau oranye. Seiring waktu, buah akan membusuk dan tidak layak jual. Jamur penyebab antraknosa berkembang melalui spora yang sangat mudah menyebar. Spora dapat terbawa percikan air hujan, aliran air, angin, maupun kontak antarbuah. Infeksi lebih mudah terjadi pada buah yang memiliki luka kecil. Perkembangannya sangat dipengaruhi oleh kelembapan tinggi, curah hujan intens, serta kondisi tanaman yang terlalu rimbun sehingga menciptakan lingkungan lembab yang mendukung pertumbuhan jamur.
Dampak Serangan Antraknosa
Serangan antraknosa ternyata bukan masalah kecil di lahan cabai, dampaknya bisa sangat besar dan langsung terasa pada hasil panen serta pemasukan petani. Di beberapa daerah sentra produksi cabai, seperti yang dilaporkan di Desa Kebonpedes, Kabupaten Sukabumi, cuaca ekstrem berupa hujan deras terutama pada malam hari memicu serangan jamur penyebab patek secara masif. Akibatnya banyak tanaman cabai tidak hanya mengalami kerusakan pada buahnya, tetapi juga pada batang dan daun, sehingga kualitas tanaman secara keseluruhan menurun drastis. Dalam kasus di Kebonpedes, sekitar 40 % tanaman cabai dilaporkan rusak atau gagal panen karena serangan penyakit ini, sementara hanya sekitar 60 % tanaman yang masih dalam kondisi baik. Berita lengkap bisa dibaca disini. Kerugian yang ditimbulkan bersifat dua arah. Pertama, dari sisi produksi, tanaman yang seharusnya bisa menghasilkan buah banyak justru tidak bisa dipanen optimal karena buahnya sudah rusak atau busuk sebelum matang. Kondisi ini otomatis menurunkan jumlah cabai yang bisa dijual ke pasar dan mengurangi pendapatan petani dari hasil panennya. Kedua, dari sisi kualitas buah, cabai yang terserang patek sering memiliki bercak hitam, kulit yang lembek, atau busuk, sehingga tidak memenuhi standar mutu untuk dijual di pasar, apalagi untuk diekspor. Harga jual cabai baik di tingkat petani maupun di pasar bisa saja sedang tinggi, tetapi ketika hasil panen banyak yang rusak, petani tetap mengalami kerugian karena volume cabai yang layak jual menyusut. Ancaman antraknosa ini juga memengaruhi aspek sosial ekonomi masyarakat tani. Ketika sebagian besar tanaman rusak, pendapatan yang semestinya digunakan untuk kebutuhan keluarga, biaya tanam musim berikutnya, atau menghidupi anak sekolah menjadi berkurang. Ketidakpastian hasil panen ini membuat petani berada pada posisi yang tidak aman, mereka tidak hanya kehilangan hasil panen, tetapi juga harus menghadapi beban biaya produksi yang sudah dikeluarkan sejak awal, seperti biaya benih, pupuk, tenaga kerja, dan lainnya. Ketika pendapatan menurun, motivasi untuk terus bertani pun bisa ikut terganggu, yang pada akhirnya berdampak pada ketahanan ekonomi keluarga petani. Dari sisi pasar, kerusakan yang luas akibat antraknosa juga bisa memengaruhi stok cabai secara regional atau nasional. Jika banyak petani di berbagai wilayah mengalami gagal panen, pasokan cabai ke pasar akan berkurang, yang secara tidak langsung dapat memicu kenaikan harga. Secara keseluruhan, serangan antraknosa bukan hanya persoalan teknis di lahan, tetapi juga masalah ekonomi dan sosial yang nyata bagi petani. Memahami dampaknya sejak dini membantu petani, penyuluh, dan pemangku kebijakan untuk lebih cepat tanggap dalam mengantisipasi risiko agar usaha tani cabai tetap berkelanjutan.
Cari
KATEGORI : |
|---|
| Pengetahuan |
| Kiat Pertanian |
| Solusi Masalah |
| Berita Inspirasi |
Rekomendasi Produk : |
|---|
| CALBOVIT |
Rekomendasi Produk : |
|---|
| CALBOVIT |