HARGA CABAI NAIK JELANG RAMADAN, PETANI HARAP STOP OPERASI PASAR!!
Karlina Indah / Rabu,18 Februari 2026
Harga cabai kembali melambung. Kenaikan ini sontak memicu perhatian publik. Namun, bagaimana sebenarnya suara dari petani? Mas Minto, petani cabai asal Yogyakarta, membagikan kisahnya. Baginya, harga Rp80.000 per kilogram tentu membawa rasa syukur. Setelah melalui masa tanam penuh tantangan, melihat harga tinggi di masa panen adalah kelegaan tersendiri. Namun di balik itu, ada cerita panjang tentang biaya produksi yang melonjak dan risiko yang tidak sedikit. “Sebagai petani ya senang dapat harga segitu,” ujar Mas Minto. “Karena sekarang perawatan ekstra. Modal bisa naik sampai tiga kali lipat.” Menurut Mas Minto, kondisi musim dan serangan penyakit membuat biaya perawatan meningkat drastis. Pemupukan lebih intensif, pengendalian penyakit lebih sering, dan tenaga kerja tambahan menjadi kebutuhan yang tak bisa dihindari. Jika sebelumnya biaya produksi relatif stabil, kini petani harus menyiapkan modal jauh lebih besar. Kenaikan harga cabai di masa panen, dalam sudut pandang petani, bukanlah semata keuntungan berlebih. Itu adalah kompensasi atas risiko dan investasi yang sudah dikeluarkan sejak awal tanam. Apalagi tidak semua petani bisa menikmati panen maksimal. Saat ini, menurut Mas Minto, hanya sekitar 15 persen tanaman yang masih bertahan dan menghasilkan panen. “Seleksi alam tinggi,” katanya. Banyak tanaman gagal akibat cuaca ekstrem dan serangan penyakit. Artinya, produksi turun drastis, sementara permintaan pasar tetap berjalan. Inilah yang kemudian mendorong harga naik sesuai hukum pasar, ketika pasokan menurun dan permintaan tetap, harga akan meningkat.
Walaupun harga di tingkat petani sudah menyentuh Rp80.000 per kilogram, di tangan konsumen angkanya bisa lebih tinggi menembus Rp100.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Selisih ini memunculkan pertanyaan: di mana sebenarnya persoalan terjadi? “Petani tidak bisa bikin harga. Harga ikut pasar,” tegas Mas Minto. Menurutnya, ketika harga di tingkat konsumen dianggap terlalu tinggi, yang sering disorot justru harga di petani. Padahal, jarak harga antara petani dan konsumen menunjukkan adanya rantai distribusi yang panjang dan kompleks. Mas Minto mempertanyakan kebijakan operasi pasar yang kerap dilakukan saat harga cabai naik. “Kenapa yang diperbaiki bukan sistem distribusinya?” ujarnya. Ia merasa, harga di tingkat petani sebenarnya tidak setinggi yang dibayangkan publik. Namun ketika sampai di konsumen, harganya sudah berlipat. Operasi pasar sering kali dimaksudkan untuk menekan harga agar lebih terjangkau masyarakat. Namun dari sudut pandang petani, kebijakan tersebut kadang terasa kurang menyentuh akar persoalan.
Ketika Harga Mahal Jadi Sorotan, Harga Murah Terabaikan
Fluktuasi harga cabai selalu menarik perhatian publik. Namun menariknya, perhatian itu cenderung muncul saat harga sedang tinggi. Ketika harga cabai melonjak, perbincangan cepat menyebar, keluhan bermunculan, bahkan tak jarang disertai aksi protes. Cabai menjadi sorotan utama, seolah-olah kenaikan harga adalah persoalan besar yang harus segera ditekan. Sebaliknya, ketika harga anjlok hingga menyentuh Rp4.500 per kilogram, suasana justru sunyi. Hampir tidak ada pembelaan bagi petani. Tidak ada unjuk rasa. Tidak ada tuntutan untuk menaikkan harga agar lebih layak. Kondisi ini menjadi ironi yang dirasakan langsung oleh para petani, termasuk Mas Minto. “Kalau harga mahal biasanya banyak unjuk rasa. Tapi pas harga rendah sampai Rp4.500 per kilogram, petani tidak ada yang demo,” ungkapnya. Padahal, harga Rp4.500 per kilogram jelas jauh dari kata layak. Dengan biaya produksi yang saat ini semakin tinggi, mulai dari pupuk, obat-obatan, tenaga kerja, hingga perawatan ekstra, harga serendah itu membuat petani merugi. Tidak sedikit yang terpaksa tetap menjual hasil panen demi menutup kebutuhan mendesak, walaupun hasilnya tidak sebanding dengan modal yang telah dikeluarkan.
Bagi petani, yang paling berat bukanlah harga tinggi atau harga rendah semata, melainkan fluktuasi yang terlalu ekstrem. Harga tinggi memang menyenangkan, tetapi biasanya tidak berlangsung lama. Sebaliknya, harga rendah bisa datang tiba-tiba dan bertahan cukup lama hingga menggerus modal. Ketidakstabilan inilah yang membuat petani sulit merencanakan usaha secara berkelanjutan. Di tengah dinamika tersebut, harapan Mas Minto sebenarnya sederhana, kepastian harga. Bukan harga yang selalu tinggi, melainkan harga yang stabil dan memberikan margin keuntungan yang wajar. Menurutnya, pada musim kemarau harga ideal berada di kisaran Rp30.000–Rp40.000 per kilogram. Di angka itu, petani sudah bisa memperoleh keuntungan yang cukup. Sementara pada musim hujan, ketika risiko kegagalan lebih besar, harga minimal Rp60.000–Rp70.000 per kilogram dianggap layak. “Panen hari ini bukan cuma untuk kebutuhan hidup hari ini. Harus ada untuk tanam selanjutnya,” jelasnya. Artinya, hasil panen tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, tetapi juga menjadi modal untuk siklus tanam berikutnya. Jika harga tidak mampu menutup biaya produksi sekaligus menyisakan keuntungan, maka keberlanjutan usaha tani akan terancam.
Ia juga menyinggung soal pupuk, baik subsidi maupun non-subsidi. Bagi Mas Minto, selama ada kepastian harga hasil panen, petani akan lebih tenang dalam mengambil keputusan. Ketidakpastian justru membuat petani ragu, antara berani menanam atau memilih menahan diri karena takut merugi. Saat ini, minat tanam cabai memang sedang tinggi. Bahkan bibit harus inden karena banyak yang ingin mencoba peruntungan. Namun Mas Minto mengingatkan, tidak semua yang menanam akan berhasil. Cuaca, serangan penyakit, dan manajemen budidaya tetap menjadi faktor penentu. Ia juga meyakini bahwa harga mahal seperti sekarang tidak akan bertahan lama. Ketika produksi kembali meningkat, harga akan menyesuaikan dengan sendirinya. Karena itu, ia berharap masyarakat memahami bahwa harga mahal adalah bagian dari mekanisme pasar. Bukan karena petani ingin mengambil keuntungan berlebihan, melainkan karena pasokan yang terbatas. Di balik angka Rp80.000 per kilogram, ada risiko, kerja keras, dan harapan agar usaha tani tetap bisa berlanjut. Selain itu, dari pihak pembuat kebijakan juga harus membela petani, harus memikirkan modal yang dikelurkan dan kehidupan yang layak bagi petani sebagai penjaga ketahanan pangan.
Cari
KATEGORI : |
|---|
| Pengetahuan |
| Kiat Pertanian |
| Solusi Masalah |
| Berita Inspirasi |
Rekomendasi Produk : |
|---|
| ABSOLUT 69 |
Rekomendasi Produk : |
|---|
| ABSOLUT 69 |