CARA MEMBUAT TANAH TIDAK CEPAT KERING DI MUSIM KEMARAU!! TAMBAHKAN 2 BAHAN INI AGAR TANAMAN TETAP SEHAT DI MUSIM KEMARAU
Karlina Indah / 08 Sep 2026
Musim kemarau belum selesai, tetapi dampaknya sudah terasa sampai ke pasar. Tanah semakin kering, tanaman mulai layu, sebagian petani bahkan terpaksa membiarkan tanamannya mati karena air tidak lagi mudah didapatkan. Di sisi lain, pasokan sayuran menurun dan harga mulai bergerak naik. Cabai menjadi salah satu komoditas yang ikut merasakan dampaknya. Namun, ada satu pertanyaan yang menarik untuk kita pikirkan: benarkah tanaman mati hanya karena airnya kurang? Bisa jadi masalahnya bukan sekadar berapa banyak air yang diberikan, tetapi berapa lama tanah mampu menyimpan air tersebut untuk tanaman. Bayangkan petani sudah susah payah menyiram lahan. Air masuk ke tanah, tetapi beberapa jam atau hari kemudian tanah kembali kering dan tanaman kembali layu. Kalau kondisi seperti ini terus terjadi, petani akhirnya harus menyiram lebih sering, mengeluarkan biaya lebih banyak, sementara tanaman tetap mengalami stres air. Di sinilah kondisi tanah menjadi sangat penting. Tanah dengan kandungan bahan organik yang baik memiliki kemampuan lebih besar untuk menahan dan menyediakan air bagi tanaman. Penelitian pada tanaman cabai juga menunjukkan bahwa bahan organik berperan dalam meningkatkan kemampuan tanah memegang air dan membantu tanaman menghadapi kondisi stres air.
Lalu, apakah petani harus membeli alat irigasi mahal? Belum tentu. Ada dua bahan yang sebenarnya cukup dekat dengan dunia pertanian dan dapat membantu memperbaiki kemampuan tanah dalam menyimpan air tapi keduanya belum banyak digunakan oleh petani. Keduanya memang bukan air tambahan. Tetapi ketika digunakan dengan tepat, keduanya dapat membantu menciptakan kondisi tanah yang lebih mampu menahan air. Lantas, bagaimana cara kerjanya? Mana yang lebih cocok untuk lahan petani? Dan apakah benar tanah yang diberi pupuk kandang atau asam humat bisa lebih tahan menghadapi kekeringan? Mari kita bongkar satu per satu.
PUPUK KANDANG BISA JADI GUDANG AIR DI DALAM TANAH
Di tengah kondisi lahan yang semakin kering, ada satu bahan yang sebenarnya sangat dekat dengan petani, tetapi sering hanya dianggap sebagai sumber penyakit yaitu pupuk kandang. Padahal, perannya tidak berhenti pada menyumbangkan unsur hara. Bahan organik dari pupuk kandang juga dapat membantu tanah menyimpan air lebih lama. Secara prinsip, semakin baik kandungan bahan organik dan struktur tanah, semakin besar pula kemampuan tanah dalam menahan air. Bahkan, uji sederhana yang kami lakukan menunjukkan perbedaan yang cukup menarik.
Pada perlakuan tanah + air, air yang dapat tersimpan hanya sekitar 272,3 ml. Ketika menggunakan pupuk kandang + air, jumlahnya meningkat menjadi 770 ml. Artinya, pada pengujian ini, perlakuan pupuk kandang mampu menahan air hampir 3 kali lipat dibandingkan tanah tanpa pupuk kandang. Menariknya, ketika pupuk kandang dicampurkan dengan tanah, air yang tersimpan mencapai 446,6 ml. Sementara pada metode layering atau pupuk kandang yang diletakkan sebagai lapisan di antara tanah, hasilnya mencapai 465,6 ml.
Lalu, mana cara aplikasi yang kami rekomendasikan? Untuk lahan budidaya, kami lebih menyarankan pupuk kandang dicampurkan atau diaduk merata dengan tanah, bukan diletakkan dalam satu lapisan yang terkonsentrasi di satu titik. Alasannya apabila pupuk kandang terpusat pada satu titik, dikhawatirkan akar yang tumbuh dan bersentuhan langsung dengan tumpukan bahan tersebut berisiko mengalami gangguan khususnya busuk akar akibat banyaknya air yang tersimpan pada pupuk kandang. Jadi, jangan hanya berpikir bagaimana memberi air lebih banyak? Mulailah berpikir bagaimana membuat tanah mampu menyimpan air yang sudah kita berikan? Dan pupuk kandang bisa menjadi salah satu jawabannya.
ASAM HUMAT BISA MEMBUAT AIR LEBIH LAMA BERTAHAN DI TANAH
Kalau pupuk kandang ibarat gudang air dari bahan organik, maka asam humat bisa menjadi salah satu bahan yang membantu tanah mempertahankan kelembapannya. Ketika petani sedang menghadapi kondisi tanah yang cepat kering. Karena masalahnya bukan selalu soal berapa banyak air yang diberikan, tetapi berapa lama air tersebut bisa bertahan di sekitar perakaran. Kami kemudian melakukan uji sederhana dengan membandingkan tanah yang diberi asam humat dengan tanah tanpa asam humat. Hasilnya cukup menarik. Baik melalui pengocoran asam humat maupun dengan mencampurkannya langsung ke tanah, media yang mendapatkan asam humat terlihat mampu mempertahankan kelembapan lebih lama. Bahkan setelah didiamkan selama satu minggu, tanah yang diberi asam humat masih terlihat lembap, sementara perlakuan tanpa asam humat sudah jauh lebih kering.
Yang lebih menarik, pengujian tidak hanya dilakukan pada tanah pertanian. Pasir pun kami coba. Seperti yang kita tahu, pasir memiliki banyak pori makro sehingga air cenderung lebih cepat mengalir dan sulit dipertahankan. Namun pada pengujian kami, pemberian asam humat juga menunjukkan kemampuan mempertahankan kelembapan pada media pasir. Secara teori, asam humat memang memiliki sifat yang berkaitan dengan kemampuan mengikat air dan dapat berperan dalam memperbaiki kondisi fisik tanah. Beberapa penelitian juga melaporkan peningkatan kemampuan menahan air setelah aplikasi asam humat pada kondisi tanah tertentu. Tetapi perlu digarisbawahi: asam humat bukan pengganti air. Efeknya sangat bergantung pada jenis tanah, kondisi bahan organik, dosis, formulasi produk, dan cara aplikasinya. Artinya, jangan berharap asam humat membuat lahan tidak perlu disiram. Yang kita harapkan adalah air yang sudah diberikan tidak langsung hilang begitu saja. Dan di tengah kondisi kemarau seperti sekarang, kemampuan tanah mempertahankan kelembapan sekecil apa pun bisa menjadi sangat berarti bagi tanaman. Berikut bukti asam humat mampu menahan air setelah 6 hari penggunaan asam humat:
Ketika kemarau membuat tanah cepat kering, tanaman stres, bahkan gagal tumbuh, masalahnya bukan hanya ketersediaan air, tetapi juga kemampuan tanah dalam menyimpan air. Menyiram lebih banyak belum tentu menjadi solusi jika air cepat hilang dari zona perakaran. Karena itu, yang perlu diperbaiki bukan hanya jumlah airnya, tetapi juga kondisi tanahnya. Pupuk kandang dapat menambah bahan organik sekaligus membantu meningkatkan kemampuan tanah menahan air. Sementara itu, asam humat dari uji coba kami menunjukkan potensi mempertahankan kelembapan, bahkan setelah didiamkan selama satu minggu. Jadi, sebelum menyalahkan kemarau, coba periksa tanahnya. Bisa jadi bukan airnya yang terlalu sedikit, tetapi tanahnya yang belum mampu menyimpan air dengan baik.
Cari
KATEGORI : |
|---|
| Berita Inspirasi |
| Solusi Masalah |
| Kiat Pertanian |
| Pengetahuan |
Rekomendasi Produk : |
|---|
| POWERSOIL |
Tags : |
|---|
Rekomendasi Produk : |
|---|
| POWERSOIL |