Artikel

CARA CEPAT FERMENTASI PUPUK KANDANG

CARA CEPAT FERMENTASI PUPUK KANDANG


Karlina Indah / Rabu,11 Februari 2026

Fermentasi pupuk kandang adalah langkah penting yang sering dianggap sepele, padahal justru menentukan kualitas pupuk sebelum diaplikasikan ke lahan. Banyak kasus tanaman layu, akar terbakar, atau pertumbuhan terhambat bukan karena pupuk kandangnya jelek, melainkan karena pupuk belum melalui proses fermentasi yang sempurna. Oleh karena itu, memahami cara cepat dan tepat dalam fermentasi pupuk kandang menjadi kunci utama untuk mendapatkan hasil tanam yang optimal. Secara sederhana, fermentasi merupakan proses biologis untuk menurunkan panas alami yang terkandung dalam pupuk kandang segar. Pupuk kandang yang baru keluar dari ternak masih mengandung suhu tinggi akibat aktivitas mikroorganisme dan proses pembusukan awal. Jika langsung digunakan, panas ini dapat merusak akar tanaman, menghambat penyerapan nutrisi, bahkan menyebabkan tanaman mati. Melalui fermentasi, suhu pupuk menjadi stabil dan aman bagi tanaman. Selain menurunkan panas, fermentasi juga berfungsi menguraikan bahan-bahan kasar seperti sisa serat pakan, jerami, dan kotoran padat menjadi humus yang lebih halus. Humus inilah yang sangat dibutuhkan tanah karena mampu memperbaiki struktur tanah, meningkatkan daya simpan air, serta menjadi sumber makanan mikroorganisme baik. Tanah yang kaya humus akan lebih gembur, subur, dan mudah diolah. Manfaat penting lainnya dari fermentasi pupuk kandang adalah membunuh bibit penyakit dan gulma. Proses fermentasi yang benar akan menghasilkan kondisi lingkungan yang tidak mendukung hidupnya patogen penyebab penyakit tanaman maupun biji gulma. Dengan demikian, risiko penularan penyakit ke lahan dapat ditekan sejak awal. Yang tidak kalah penting, pupuk kandang yang telah difermentasi akan lebih mudah diserap oleh tanaman. Unsur hara yang sebelumnya masih terikat dalam bentuk kompleks akan diurai menjadi bentuk yang tersedia bagi tanaman. Inilah alasan mengapa pupuk kandang terfermentasi bekerja lebih efektif, efisien, dan memberikan dampak nyata terhadap pertumbuhan tanaman. Dalam artikel ini, kita akan belajar cara mudah fermentasi pupuk kandang ala Mitra Bertani.

Bahan Yang perlu Disiapkan Untuk Fermentasi

Keberhasilan proses fermentasi pupuk kandang sangat ditentukan oleh bahan-bahan yang digunakan. Pemilihan dan komposisi bahan yang tepat akan mempercepat proses penguraian, menghasilkan pupuk yang matang, tidak panas, dan aman digunakan untuk tanaman. Berikut bahan utama yang perlu disiapkan dalam fermentasi pupuk kandang.

1. Kotoran hewan, seperti kotoran sapi, kambing, ayam, atau kerbau. Kotoran hewan berfungsi sebagai sumber unsur hara makro dan mikro yang dibutuhkan tanaman. Namun, kotoran ini masih mengandung kadar air dan panas yang tinggi, sehingga perlu difermentasi agar lebih stabil dan tidak merusak tanaman.

2. Bahan kaya karbon, seperti sekam padi, jerami, atau serbuk gergaji. Bahan ini berperan sebagai penyeimbang rasio karbon dan nitrogen (C/N ratio) dalam proses fermentasi. Tanpa tambahan bahan kaya karbon, pupuk kandang cenderung terlalu basah, berbau menyengat, dan proses penguraiannya berjalan lebih lambat. Selain itu, bahan karbon membantu memperbaiki struktur pupuk agar lebih gembur.

3. Dekomposer menjadi komponen penting berikutnya. Dekomposer merupakan kumpulan mikroorganisme baik yang berfungsi mempercepat penguraian bahan organik. Dekomposer bisa berasal dari produk komersial maupun bahan alami seperti M21 atau EM4. Kehadiran dekomposer membuat proses fermentasi berlangsung lebih cepat dan merata.

4. Gula merah atau molase digunakan sebagai sumber energi bagi mikroorganisme. Dengan adanya gula, mikroba akan berkembang lebih cepat dan aktif dalam menguraikan bahan organik.

5. Air, diperlukan untuk menjaga kelembapan bahan fermentasi. Kelembapan yang ideal akan mendukung aktivitas mikroorganisme tanpa menyebabkan pembusukan. Selain itu air juga berfungsi untuk melarutkan molase dan decomposer

6. Terpal penutup digunakan untuk menjaga suhu, kelembapan, dan melindungi bahan dari hujan atau sinar matahari langsung sehingga proses fermentasi berjalan optimal

Langkah – Langkah Fermentasi Pupuk Kandang

Setelah semua bahan disiapkan, tahap selanjutnya adalah proses fermentasi itu sendiri. Langkah fermentasi pupuk kandang perlu dilakukan secara berurutan agar mikroorganisme bekerja optimal dan hasil pupuk benar-benar matang serta aman digunakan.

1. Langkah pertama adalah mencampur bahan utama. Campurkan kotoran hewan dengan bahan kaya karbon seperti sekam, jerami cincang, atau serbuk gergaji. Aduk hingga merata agar tidak ada bagian yang terlalu basah atau terlalu kering. Perbandingan yang seimbang akan membantu menjaga rasio C/N dan mempercepat proses penguraian.

2. Langkah kedua, buat larutan aktivator. Larutan ini terdiri dari air bersih, dekomposer, dan gula merah atau molase yang telah dilarutkan. Dengan dosis decomposer dan molase masing – masing 5 ml/ liter .

3. Selanjutnya, siramkan larutan aktivator ke tumpukan pupuk secara merata. Penyiraman sebaiknya dilakukan sedikit demi sedikit sambil diaduk agar kelembapan menyebar ke seluruh bagian. Kondisi ideal pupuk adalah lembap, tidak becek, dan jika digenggam tidak mengeluarkan air tetapi terasa basah.

4. Setelah disiram, aduk kembali seluruh bahan hingga benar-benar homogen. Pengadukan ini penting agar mikroorganisme tidak hanya bekerja di permukaan, tetapi juga di bagian dalam tumpukan pupuk. Aduk dari bawah ke atas untuk memastikan semua bahan mendapatkan aktivator.

5. Langkah terakhir adalah menutup tumpukan pupuk menggunakan terpal. Penutupan bertujuan menjaga suhu dan kelembapan selama fermentasi serta melindungi pupuk dari hujan dan sinar matahari langsung. Biarkan pupuk difermentasi selama beberapa hari hingga proses penguraian berjalan sempurna. Minimal 14 hari, namun idealnya 21-30 hari.

Sebagai penutup, penting untuk mengenali ciri pupuk kandang yang telah matang agar aman dan efektif digunakan. Pupuk kandang yang matang ditandai dengan suhu yang sudah dingin atau sama dengan suhu lingkungan, tidak lagi terasa panas saat disentuh. Bau menyengat juga akan berkurang, berubah menjadi aroma tanah atau humus. Teksturnya remah, gembur, dan bahan kasar mulai terurai. Warna pupuk umumnya cokelat tua hingga kehitaman. Jika diaplikasikan ke tanaman, pupuk matang tidak menyebabkan layu atau stres, justru membantu pertumbuhan lebih sehat dan stabil. Dengan pupuk kandang yang matang, hasil budidaya pun menjadi lebih optimal dan berkelanjutan


Rekomendasi Produk :
POWERSOIL