Budidaya Cabai : 5 Hal Paling Berdampak Terhadap Kematian Bibit Pasca Pindah Tanam
Karlina Indah / Sabtu,22 Maret 2025
Pindah tanam adalah salah satu tahap paling krusial dalam pertumbuhan tanaman. Ketika tanaman dipindahkan dari persemaian ke lahan tanam, mereka mengalami fase kritis yang menentukan keberlangsungan hidupnya. Karena biasanya bibit ternaungi dari sinar matahari, dari air hujan dan bebas dari hama. Sedangkan setelah di pindahkan ke lahan, bibit langsung akan terbentur dengan hal – hal tersebut. Jika tidak dilakukan dengan tepat, tanaman bisa mengalami stres, layu, bahkan mati. Kendala yang sering dihadapi petani yaitu seperti tanam 5 beki namun melakukan sulaman hingga 8 beki, bahkan banyak bibit yang baru pindah tanam sudah terkena virus. Lalu, apa saja faktor utama yang paling memengaruhi tingkat keberhasilan pindah tanam? Dalam artikel ini, kita akan membahas 5 penyebab utama kematian tanaman setelah pindah tanam serta cara mengatasinya agar tanaman dapat tumbuh dengan optimal.
1. Pupuk yang belum siap
Tidak sedikit petani menggunakan pupuk kimia sebagai pupuk dasar dengan dosis berlebih, atau menggunakan pupuk kandang mentah yang belum terfermentasi sebagai pupuk dasar. Bahkan banyak kasus di lapangan yang jarak antara pupuk dasar dengan tanah penutup pupuk terlalu tipis. Beberapa fakta tersebut terbukti berdampak terhadap kematian bibit pasca pindah tanam. Ketika pupuk kimia berlebih dan tanah penutup pupuk tipis kemungkinan bibit akan menempel ke pupuk, yang mana hal tersebut menyebabkan plasmolysis terhadap akar bibit sehingga bibit kering. Sedangkan Ketika menggunakan pupuk kandang yang masih segar atau belum terfermentasi nantinya pupuk tersebut akan mengalami proses dekomposisi yang menghasilkan panas. Jika digunakan langsung, panas ini bisa merusak akar bibit, menyebabkan layu, bahkan kematian tanaman. Oleh karena itu, penting adanya proses pendiaman lahan. Kasus lain yang menyebabkan kematian pasca pindah tanam yaitu biasanya petani yang menanam di lahan bekas akan langsung memasukan pupuk kimia di lubang tanam. Hal tersebut perlu di hindari terkhusus pupuk yang mengandung unsur N dan Cl. Apabila terpaksa menggunakan pupuk kimia sebaiknya pupuk kimia di masukan ke lubang tanam lalu di tutup tanah terlebih dahulu baru dilakukan penanaman.
2. Hama di sistem perakaran
Hama di sistem perakaran adalah organisme yang menyerang dan merusak akar tanaman, menyebabkan pertumbuhan terhambat, layu, atau bahkan kematian. Salah satu hama yang menganggu system perakaran adalah uret. Fase hidup uret yang paling mengganggu pertanian adalah fase larva. Ancaman serangan hama uret berdasar pranata mangsa tinggi di bulan Februari. Uret ini akan memakan kulit batang bawah yang dekat dengan tanah, akar tanaman, dan akar yang telah berkembang menjadi umbi. Secara penampakan tanaman yang terserang uret nanti tanaman akan hidup segan mati tak mau, apabila di angkat akarnya biasanya putus. Pengendalian yang bisa dilakukan yaitu melakukan penaburan karbofuran atau kocor menggunakan insektisida bahan aktif sipermetrin, lamda sihalotrin atau diazinon. Selain hama di system perakaran ada juga hama yang menyerang tanaman pasca pindah tanam seperti moluska, jangkrik ataupun respo. Sehingga sebelum pindah tanam harus dipastikan lahan steril dari hama tersebut
3. Bibit dalam kondisi kurang baik.
Bibit harus diperhatikan dengan baik sebelum pindah tanam agar dapat tumbuh dengan sehat dan kuat di lingkungan barunya. Sobat Mitra Bertani harus memperhatikan kondisi visual bibit, hindari bibit yang daunnya bagus, lebar namun batangnya kecil. Sebisa mungkin pilih bibit yang proporsi tubuhnya seimbang, batang kuat, kokoh, daun tebal. Apabila bibit sudah ada gejala penyakit seperti bibit kehitaman / kecoklatan / bercak lebih baik tidak usah di tanam. Berikut contoh bibit yang sudah ada gejala busuk batangnya :
4. Cuaca
Cuaca menjadi salah satu faktor alam yang berpengaruh terhadap kematian bibit pasca pindah tanam, namun faktor cuaca ini tidak bisa dikendalikan oleh manusia. Kita sebagai petani hanya bisa berusaha dan mengurangi dampaknya. Seperti apabila menanam di musim penghujan yang jelas tanah terlalu lembab berakibat terhadap akar bibit yang busuk, kitab isa menambah arang sekam di media tanam. arang sekam ini membantu membuka pori tanah, sehingga seimbang antara air dan udara di tanah. Apabila kita menanam di musim kemarau yang kondisi tanahnya terlalu kering nanti akan menyebabkan bibit layu lalu mati, sehingga di rekomendasikan untuk rutin melakukan pengairan
5. Cara penanaman yang kurang tepat
Tidak sedikit petani masih salah dalam melakukan penanaman, salah satunya membuat lubang tanam terlalu dalam ataupun terlalu pendek, dan menekan bibit terlalu kuat yang kemungkinann memutus akar. Akar yang putus ini memperlama perkembangan tanaman, karena tanaman harus menyembuhkan akarnya dulu baru melakukan pertumbuhan berupa pertumbuhan tunas, perpanjangan akar dll. Selain itu, penanaman yang tidak berhati – hati ada kemungkinan akan mematahkan batangnya. Selain itu, batang yang bersentuhan dengan mulsa juga kemungkinan akan mengering akibat panas Terik dari sinar matahari dan permukaan mulsa.
Memahami faktor-faktor yang paling berdampak terhadap kematian bibit pasca pindah tanam adalah langkah penting dalam memastikan pertumbuhan tanaman yang sehat dan minim penyulaman. Dengan memastikan lahan siap digunakan, lahan steril dari hama perakaran, memastikan bibit dalam kondisi siap digunakan, lebih peka terhadap cuaca dan melakukan penanaman dengan baik berdampak positif terhadap keberhasilan dalam budidaya tanaman. Dengan perhatian dan perawatan yang tepat, bibit yang dipindahkan dapat tumbuh kuat dan memberikan hasil yang optimal. Demikian artikel ini, semangat dan selamat mencoba. Semoga berhasil ya Sobat Mitra Bertani!
Cari
KATEGORI : |
|---|
| Pengetahuan |
| Kiat Pertanian |
| Solusi Masalah |
| Berita Inspirasi |
Rekomendasi Produk : |
|---|
| POWERSOIL |
Rekomendasi Produk : |
|---|
| POWERSOIL |