Metode Murah Meriah dan Ampuh Mengatasi Penyakit Layu Tanaman Cabai
Angga Syarief / Selasa,27 Desember 2022
Bertani adalah sebuah kegiatan pemanfaatan sumber daya alam oleh manusia untuk menghasilkan bahan pangan, bahan baku industri dan mengelola lingkungan hidupnya. Terjun didunia pertanian itu sebenarnya mengasyikan dan banyak manfaatnya. Menanam salah satu komoditas sebagai bahan pangan lalu menjual dan mendapatkan keuntungan sembari merawat lingkungan hidup agar tetap lestari, sungguh pekerjaan yang mulia. Sumber daya hayati di negeri kita sebenarnya melimpah, sektor pertanian Indonesia dimata dunia sudah dikenal baik dan kian hari semakin kuat. Oleh sebab itu, peluang didunia pertanian perlu sebuah dukungan pemerintah dan masyarakat. Yang masih menjadi PR atau pekerjaan rumah adalah mengubah mindset masyarakat bahwa bertani itu menyenangkan dan bisa dijadikan kerjaan sampingan yang menguntungkan.
Artikel kali ini sengaja kami buat untuk menjadi inspirasi kepada sahabat petani semua bahwa bertani itu asyik dan banyak peluang yang bisa dimanfaatkan. Kali ini, kita bersama dengan salah satu narasumber bernama Mas Itok yang beralamat tinggal di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung. Beliau tidak menjadi petani sepenuhnya yang hanya fokus disawah karena pekerjaan tetap beliau sebagai pedagang keliling. Setiap harinya ditemani motor dan gerobak kecil berkeliling area kantor Temanggung. Jadi bertani sebagai sampingan saja, waktu sebelum berangkat berjualan dan sore hari sepulang berjualan. Secara waktu untuk merawat tanaman memang lebih sedikit dibandingkan dengan petani yang full fokus disawah. Bahkan beliau memiliki beberapa lahan yang harus dirawat, tetapi kenyataannya beliau bisa membagi waktu dan hasil tanamannya tumbuh dengan baik. Sedikit cerita, awalnya Mas Itok bisa terjun kedunia pertanian karena saran dari Mas Udin profesor cabai. Beliau sudah kenal cukup lama dengan Mas Udin. Beralamat tinggal yang sama juga dengan Mas Udin, membuat keseharian beliau bertemu dengan Mas Udin dan menjadi anak didik dari Mas Udin. Mas Itok menerapkan metode yang digunakan Mas Udin, perawatannya ada dibawah ini.
Pengolahan lahan
Topik pembahasan yang paling utama pada artikel kali ini adalah tentang pengolahan lahan yang tepat. Sedikit bercerita tentang olah lahan beliau, jadi awalnya beliau mengikuti metode profesor cabai. Untuk pengolahan lahan metode professor cabai, saran dari Mas Udin sendiri untuk pemberian pupuk dasaran cukup dengan pupuk kandang kambing saja. Catatan penting dari Mas Udin kepada Mas Itok, gunakan pupuk kandang kambing yang sudah terfementasi dengan baik dan matang. Ciri-ciri dari pupuk kandang yang sudah terfermentasi dengan baik adalah tekstur pupuk sudah tidak menggumpal lebih lebur seperti tanah, bau sudah menyengat, dan tidak panas. Dan pemberian pupuk kandang diberikan tepat dibagian tengah-tengah bedengan. Petani pada umumnya, masih kurang memperhatikan hal sekecil ini padahal ini sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman.
Posisi pupuk kandang berada pada tengah akan membuat tanaman fase pertumbuhannya tidak manja, membiasakan akar akan tumbuh mencari sumber makanannya dengan sendirinya sehingga akar maupun bulu-bulu akar akan tumbuh dengan optimal. Beda halnya jika memberikan pupuk dasaran yang disebar diatas permukaan bedengan dengan dosis yang banyak dan tepat dilubang tanam. Inilah yang membuat kasus tanaman mengalami kematian, Mengapa? Karena pupuk dasar yang berada pada lubang tanam langsung dan bersentuhan dengan tanaman, riskan mengalami kematian sebab pupuk dasaran itu bersifat panas apalagi pupuk kandang yang belum terfermentasi dengan baik. Sehingga panas itu menyebabkan uap dari dalam tanah naik lalu menyentuh akar tanaman. Uap panas itulah yang menjadi biang keroknya, tanaman merasa kepanasan suhu didalam tanah tinggi hasilnya tanaman terbakar dan mati. Jadi, metode professor cabai menurut Mas Itok sudah tepat dan benar, karena hal sekecil itu juga mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Memegang pedoman dari awal bahwa pengolahan lahan yang tepat akan membuat tanaman tumbuh secara pesat.
Nutrisi tambahan
Unsur pembenah tanah dan agensi hayati sudah beliau aplikasikan mulai dari sehari sebelum penanaman. Bahan yang digunakan yaitu POWERSOIL, Power Carbon, dan Trichoderma “BioSigma” dengan dosis masing-masing 3 sendok makan/20 liter air. Ketiga bahan tersebut dilarutkan kemudian dikocorkan tepat dilubang tanam.
Sistem tumpangsari
Jadi awalnya beliau menumpangsarikan tanaman cabai dengan tanaman brokoli. Tetapi beliau melihat perkembangan tanaman cabainya seperti tidak ada perkembangan, seakan-akan tanaman hidup segan dan mati juga tidak mau. Berkonsultasi dengan Mas Udin terkait tanaman cabainya yang kerdil, saran dari Mas Udin mengulang perawatannya seperti diawal. Pertama Mas Itok kembali menyertakan POWERSOIL, Power Carbon, BioSigma yang dikocorkan dengan dosis 3 sendok makan/20 liter air. Kemudian beliau menambahkan nutrisi tambahan berupa MORDENFOL dan Asam Amino “VIGORIN” dengan masing-masing dosis 2 tutup botol. Interval kocornya 5 hari sekali sampai tanaman menyentuh fase generatif.
Perawatan fase generatif
Mas Itok menyadari sejak awal bahwa tanaman cabainya dari awal pertumbuhannya melambat, setelah genjot perawatan di fase vegetatif, tanaman mulai fase generatif kembali beliau genjot nutrisi menggunakan unsur kalium,phospat, dan boron “KALINET” dengan dosis 2 tutup botol/16 liter air. Spray rutin dengan interval 4 hari sekali.
Pupuk susulan
Pupuk susulan berupa NPK Mutiara 16-16-16 dari Yaramila beliau berikan dengan cara tabur dilubang susulan, lubang disamping lubang tanam. Dosis yang diberikan cukup 1 sendok makan/lubang susulan. Aplikasi pupuk susulan ini mulai diberikan diumur 20, 40, 60, dan 80 HST jadi intervalnya 20 hari sekali.
Pengendalian layu
Singkat cerita, sebenarnya beliau diawal melakukan kesalahan. Jadi diawal pengolahan lahan untuk pemberian pupuk dasar tidak beliau lakukan diposisi tengah bedengan tetapi dicampur merata permukaan atas bedengan. Merasa panik akhirnya beliau konsultasi dengan Mas Udin, seketika Mas Udin berkata “besok aku melayat ketanamanmu” kata Mas Udin. Dari awal setelah mendengar perlakuan olah lahan Mas Itok kurang tepat Mas Udin sudah menganalisa bahwa tanaman cabai Mas Itok bisa mengalami kematian. Ternyata benar, beberapa tanaman beliau mengalami kematian karena layu fusarium. Pada akhirnya, Mas Udin turun tangan dan memberikan kiat pencegahan agar penyakitnya tidak menyebar luas. Resep dari Mas Udin yaitu memberikan kombinasi fungisida sistemik dan kontak yang diaplikasikan via kocor dan spray. Tujuan kombinasi fungisida sistemik dan kontak, penyakit layu itu juga menyerang jaringan dalam tanaman jadi peran fungisida sistemik sangat efektif untuk menghentikan kinerja jamur didalam sel tanaman, kemudian melindungi serangan jamur dari luar yang menyerang permukaan tanaman peran tugas dari fungisida kontak. Beliau aplikasikan 3 hari sekali, jadi sehari beliau melakukan kocor dan spray juga. Terbukti, layu dapat dicegah dan potensi penyebarannya dapat dihentikan.
Jadi kesimpulan artikel kali ini adalah langkah pencegahan layu dari awal adalah dengan memperhatikan posisi pemberian pupuk dasar yang diberikan tepat ditengah bedengan. Kesimpulan kedua mengatasi tanaman yang kerdil adalah dengan genjot nutrisi berupa pengaplikasian pembenah tanah, agensi hayati, unsur phospat, dan asam amino. Kesimpulan ketiga untuk meningkatkan produktivitas tanaman adalah dengan pengaplikasian unsur kalium,phospat, dan boron. Dan kesimpulan terakhir adalah mengatasi tanaman yang terserang layu dengan pengaplikasian kombinasi fungisida sistemik dan kontak.
“Bertani pakailah ilmu, pola, dan metode yang benar, jangan cuma asal serap ilmu yang cuma katanya” Pesan Mas Itok
Demikian artikel ini kami buat terkait mencegah kematian pada tanaman cabai, selengkapnya kami sajikan disini.