Tanaman Cabai Layu Jangan Dicabut Dulu! 3 Kali Kocor Fungisida Ini Bisa Menghentikan Penyebaran Layu
Karlina Indah / Sabtu,09 Mei 2026
Setelah lahan siap tanam, apakah perawatan cabai cukup hanya dengan penyiraman dan pemupukan? Mengapa ada petani yang tanamannya tetap hijau dan produktif meski di musim rawan serangan virus kuning dan layu, sementara lahan lain justru cepat rusak? Ternyata, rahasianya bukan hanya pada obat yang digunakan, tetapi juga pada teknik perawatan sejak awal budidaya. Mas Abdul, petani cabai dari Kecamatan Kajoran, memiliki cara tersendiri dalam merawat tanaman cabai agar tetap sehat dan tidak mudah terserang penyakit. Salah satu teknik yang diterapkan adalah penggunaan jarak tanam 60 cm dengan pola zigzag. Sekilas terlihat sederhana, namun pola ini membuat sirkulasi udara lebih lancar dan proses penyemprotan pestisida bisa mengenai seluruh bagian tanaman secara merata. Lalu, bagaimana cara perawatan lengkap yang dilakukan beliau? Simak pembahasannya berikut ini.
Perawatan Cabai Sederhana Panen Mempesona
Menurut Mas Abdul keberhasilan budidaya cabai bukan hanya ditentukan saat persiapan lahan, tetapi juga pada pola perawatan setelah tanam. Perawatan dilakukan secara rutin dan terjadwal agar tanaman tetap sehat, kuat, dan tidak mudah terserang virus kuning maupun layu.
Pada fase awal pertumbuhan, tanaman cabai dikocor sebanyak lima kali, dimulai umur 7 HST, 14 HST, dan 21 HST menggunakan campuran pupuk phospat, asam amino, dan asam humat. Ketiga bahan tersebut memiliki fungsi berbeda tetapi saling melengkapi. Pupuk phospat berfungsi memperkuat pertumbuhan akar sehingga tanaman lebih kokoh dan cepat berkembang. Asam amino membantu tanaman lebih tahan terhadap stres akibat cuaca maupun serangan hama, sedangkan asam humat berperan memperbaiki kondisi tanah agar tetap sehat dan subur. Memasuki umur sekitar 50 HST, perawatan mulai difokuskan pada penguatan tanaman menjelang fase produksi. Pada tahap ini diberikan tambahan kalsium, asam humat, serta rendaman dolomit. Kalsium diberikan sebanyak dua kali untuk membantu memperkuat jaringan tanaman dan mengurangi risiko kerontokan bunga maupun buah. Sementara dolomit membantu menjaga kestabilan pH tanah sekaligus menambah unsur hara kalsium dan magnesium. Selain kocoran, pemupukan susulan juga dilakukan dengan cara ditugal menggunakan pupuk NPK grower atau winner dengan dosis sekitar satu sendok makan per lubang tanaman. Pemupukan ini bertujuan menjaga ketersediaan nutrisi agar pertumbuhan tanaman tetap stabil hingga masa panen.
Untuk perlindungan tanaman, penyemprotan dilakukan rutin setiap lima hari sekali. Campuran semprot terdiri dari insektisida, fungisida, asam amino, dan perekat. Insektisida yang digunakan dilakukan secara roling agar hama tidak cepat kebal, di antaranya berbahan aktif imidacloprid, abamektin, piridaben, dan diafentiuron. Asam amino tetap dicampurkan hingga umur 50 HST untuk membantu menjaga kondisi tanaman tetap prima. Mas Abdul juga rutin menggunakan perekat merk Kover WP sejak awal tanam hingga masa produksi. Perekat ini mengandung silika yang membantu menghasilkan senyawa antifeedant, sehingga hama menjadi kurang tertarik menyerang tanaman. Untuk fungisida, dilakukan pergiliran antara mankozeb, metiram, dan azoksistrobin. Saat memasuki fase generatif, fungisida mankozeb diroling dengan klorotalonil dan fungisida sistemik golongan azol. Pada fase ini, nutrisi juga mulai diganti menggunakan phospat kalium untuk membantu pembentukan bunga dan buah agar lebih maksimal.
Cara Mengatasi Virus Kuning, Layu, dan Busuk Batang pada Cabai
Dalam budidaya cabai, serangan hama dan penyakit sering menjadi penyebab utama gagal panen. Namun menurut Mas Abdul, kunci utamanya bukan hanya mengobati saat serangan sudah parah, melainkan melakukan pencegahan sejak awal tanam. Dengan perawatan yang disiplin dan pengamatan rutin, berbagai kendala di lahan dapat ditekan bahkan dihentikan penyebarannya.
Salah satu kendala yang pernah muncul adalah kondisi daun yang terlihat segar dan lebar, tetapi teksturnya kaku seperti mengalami overdosis nutrisi. Kondisi ini biasanya membuat pertumbuhan tanaman kurang seimbang dan lebih rentan terserang penyakit. Untuk mengatasinya, Mas Abdul melakukan pengocoran kalsium. Menurut beliau, kalsium membantu menyeimbangkan pertumbuhan jaringan tanaman sehingga daun kembali normal dan tanaman lebih kuat.
Dalam pencegahan virus kuning, langkah utama yang dilakukan adalah pengendalian serangga pembawa virus, terutama kutu kebul. Insektisida digunakan secara roling agar hama tidak cepat kebal terhadap satu bahan aktif tertentu. Menariknya, penyemprotan tidak hanya dilakukan pada tanaman cabai, tetapi juga pada rumput yang tumbuh di area parit sekitar lahan. Hal ini karena rumput sering menjadi tempat persembunyian hama sebelum berpindah ke tanaman cabai. Selain penyemprotan, Mas Abdul juga memasang yellow sticky trap sejak awal budidaya. Bahkan perangkap kuning tersebut sudah dipasang dua minggu sebelum tanam. Cara ini dinilai sangat efektif untuk menekan populasi serangga sejak dini. Yellow sticky trap diganti setiap satu bulan sekali dan penggunaannya dipertahankan hingga tanaman berumur sekitar 70 hari setelah tanam. Dengan langkah tersebut, risiko penyebaran virus kuning dapat ditekan lebih maksimal.
Kendala lain yang sering menjadi momok petani cabai adalah layu dan busuk batang. Namun Mas Abdul mengaku penyebaran penyakit ini bisa dihentikan apabila penanganannya cepat dan rutin. Caranya dilakukan dengan pengocoran fungisida setiap satu minggu sekali menggunakan kombinasi bahan aktif berbeda secara bergantian. Minggu pertama menggunakan fungisida berbahan aktif tembaga, minggu berikutnya klorotalonil ditambah metalaksil, lalu minggu selanjutnya menggunakan mankozeb dan metalaksil. Menurut pengalaman beliau, pola pengocoran seperti ini mampu menghentikan penyebaran penyakit dengan cepat.
Sementara itu, serangan antraknosa di lahannya tergolong sangat minim. Dari sekitar 50 kilogram hasil panen, buah yang terserang hanya sekitar lima buah saja. Hal ini menunjukkan bahwa perawatan rutin, pergiliran fungisida, serta sirkulasi udara yang baik mampu menjaga kesehatan tanaman dan buah cabai hingga masa panen.