Agar Hasil Panen Padi Maksimal dengan Kualitas Gabah Prima


Mitrabertani / Selasa,02 Juli 2019

Agar Hasil Panen Padi Maksimal dengan Kualitas Gabah Prima

Meski telah dikenal sebagai sentra pariwisata dan pendidikan, provinsi DI Yogyakarta bukannya tak punya sentra pertanian yang dikelola dengan serius. Salah satu lumbung padi di DIY adalah Kecamatan Nanggulan, yang termasuk wilayah Kabupaten Kulonprogo. Adanya pengairan teknis dari terusan Selokan Mataram yang menghubungkan antara Kali Progo di bagian barat dan Kali Opak di bagian timur DIY sangat mendukung pertanian padi di wilayah tersebut.

Sekilas tentang sejarah Selokan Mataram yang hingga kini menjadi andalan pengairan para petani di sebagian wilayah DIY, dibagun pada masa pendudukan Jepang. Kala itu Jepang sedang menggalakkan Romusha (kerja paksa) untuk mengeksploitasi sumber daya alam Indonesia ataupun untuk membangun sarana prasarana guna kepentingan perang Jepang melawan Sekutu di Pasifik. Di tengah gencar-gencarnya Romusha, Raja Yogyakarta saat itu, Sri Sultan Hamengku Buwono IX  berusaha menyelamatkan rakyatnya dari kekejaman sistem Romusha. Sri Sultan HB IX mengemukakan alasan kepada pihak Jepang bahwa wilayah Ngayogjokarto adalah daerah minus yang hanya menghasilkan singkong dan gaplek. Beliau punya perintah sendiri untuk rakyatnya agar membangun selokan (sungai kecil) sepanjang 31,2 km menghubungkan Kali Progo dan Kali Opak, agar wilayahnya berpotensi bagi pertanian. Karena dalih tersebut, disamping rasa segan penguasa Jepang terhadap HB IX, terbebaslah warga Ngayogjokarto dari kewajiban Romusha. Manfaat selokan mataram inilah yang benar-benar bisa dirasakan bagi kemakmuran warga petani hingga saat ini, bahkan terus diperpanjang dengan anakan-anakan dan terusan. Para petugas PPL Dinas Pertanian juga rajin dan bersemangat dalam memberikan penyuluhan kepada para petani, didukung opeh para produsen sarana produksi pertanian dengan produk-produk yang sudah terdaftar di Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian Kementerian Pertanian.

Pak Sumiran, adalah seorang pelaku pertanian dari dusun Penjalin, desa Donomulyo, kecamatan Nanggulan, Kulonprogo yang bisa ikut merasakan manfaat terusan Selokan Mataram saat ini. Di wilayah beliau padi bisa ditanam 3 kali setahun, termasuk di musim kemarau meski harus berbagi air dari selokan mataram dengan petani lainnya. Pembagian jatah air benar-benar dilembagakan dan diatur oleh kelompok tani secara adil.

Pada musim kemarau tahun 2018, Pak Sumiran menanam padi varitas hibrida bermerek Arize (produksi Bayer). Di salah satu petak lahannya dengan ukuran 1000m2 dan penggunaan benih 1 kg dikhususkan untuk aplikasi produk-produk MMT, antara lain POWERSOIL (asam humat), VIGORIN (pupuk organik enzimatik), dan KOVER WP (mineral pelapis tanaman plus silika). Pengolahan tanah dilakukan sebagaimana biasanya dan umum diterapkan di wilayah tersebut.

Pemupukan

  • Pemupukan dasar berupa 15 kg Urea, 15 kg Phonska, 500 gr POWERSOIL dicampur dan ditebar merata pada lahan
  • Pemupukan susulan pertama pada umur 7 HST juga berupa 15 kg Urea, 15 kg Phonska, 500 gr POWERSOIL dicampur dan ditebar merata pada lahan.
  • Pemupukan susulan kedua pada umur 30 HST (1 bulan) masih berupa 15 kg Urea, 15 kg Phonska, 500 gr POWERSOIL. Kali ini ditambahkan dolomit 25 kg untuk mengantisipasi asam-asaman. Keempatnya dicampur dan ditebar merata pada lahan.

Aplikasi Pupuk Daun dan Pestisida

Untuk menghemat tenaga dan waktu, aplikasi pupuk daun dibarengkan dengan pestisida. Pada umur 10 HST Pak Sumiran mengaplikasikan pupuk daun organik enzim VIGORIN 2 ml/liter (3 tutup pert tangki), mineral pelapis tanaman dengan kandungan unsur mikro kationik plus silika yaitu KOVER WP dengan dosis 2 sendok makan munjung per tangki. Untuk insektisidanya beliau menggunakan Prevathon 50 SC (Klorantraniliprol) untuk mengantisipasi serangan sundep dan belalang yang mengintai. Aplikasi ini dilakukan hingga umur tanaman 1 bulan dengan interval 7 - hari sekali

Pada fase primordia (pembentukan malai) hingga fase generatif (pengisian bulir), perlakuan aplikasi pupuk daun masih sama seperti sebelumnya. Yaitu VIGORIN 2 ml/liter (3 tutup pert tangki), KOVER WP dengan dosis 2 sendok makan munjung per tangki. Aplikasi tiap 10 hari sekali hingga masa pengisian bulir.

Untuk pengendaliah hama dan penyakit menggunakan insektisida berbahan aktif metomil (Metindo 40 SP) karena pada fase ini hama walang sangit mulai masuk. Sedangkan fungisida yang dipakai berbahan aktif difenokonazol (Explore 250 EC) untuk mengantisipasi penyakit hawar pelepah.

Kendala

Selain ancaman penyakit hawar daun dan walang sangit yang telah berhasil diminimalisir, terdapat kendala kurangnya air. Hal ini karena debit air dari Selokan Mataram mulai menipis hingga harus dilakukan pengaturan jadwal serta upaya penyedotan menggunakan pompa diesel. Padahal tanaman padi Pak Sumiran sedang ada pada fase pengisian. Mau tak mau haris dilakukan penyedotan air menggunakan pompa diesel. Saat itu pak Sumiran bahkan tak cukup menggunakan 1 unit pompa diesel tetapi 2 unit sekaligus untuk menyambung aliran yang cukup jauh dari Selokan Mataram sampai ke lahannya. Untunglah minimnya air itu terjadi setelah padi memasuki fase generatif sehingga kebutuhan air tak perlu berlebihan sebagaimana pada fase vegetatif.

Hasil

Hasil tidak mengkhianati perjuangan. Doa dan kesungguhan Pak Sumiran memperlakukan tanaman padinya membuahkan hasil yang memuaskan. Bisa dilihat pada foto di atas, vigor tanaman padi hampir setinggi Pak Sumiran, dengan bulir yang merunduk mulai berisi. Tak hanya itu, kombinasi VIGORIN dan POWERSOIL memberikan dampak daun tetap hijau sampai saat panen. Hingga akhirnya pada umur 115 hari setelah semai, lebih cepat dari perkiraan yang sekitar 124 hari.

Ketika saatnya panen, kami tidak sempat mendatangi lokasi karena sedang ada acara di lokasi lain. Namun kami mendapatkan laporan langsung dari Pak Sumiran, dari 1.000 m2 tersebut didapat 1.200 kg atau jika dikonversi ke luasan 1 hektar dikurangi luas pematang 5%, kira-kira mencapai 1.080 kg. Pak Sumiran juga menambahkan, sejak minggu ke-4 tanaman padinya sudah tampak berbeda dengan tanaman padi di kanan kirinya yang menggunakan merek benih yang sama. Demikian pula hasil panen yang didapat bisa dikatakan terpaut banyak.

Selamat dan terus maju buat Pak Sumiran dan sobat-sobat petani lain.